Mana Ada Anak Teknik yang Loyo

(foto: gedung C fakultas teknik, univ riau)
Aku sudah mulai masuk kuliah sejak tiga minggu lalu. Dan seminggu pertama terjadilah tragedi yang… lumayan miris, dramatis.
Hari-hari pertamaku di Civil Engineering, Universitas Riau*ehem-hem* penuh dengan kepenatan. Jarak yang mesti kutempuh tiap harinya sekitar 15 kilometer. Dan aku tidak diantar lagi. Praktek kemandirian langsung dari teori yang tiba-tiba dicetuskan orang rumahku karena terlalu capek mengantar jemputku sejak SMP sampai SMA.
Untungnya aku tidak perlu ikut OSPEK. Itu loh, yang di plonco sama senior. Semua anak UNRI angkatan ’08 merasa beruntung mungkin. Jadi orang rumah pun tidak merasa kasihan melihatku tergeletak pulang kampus. Lain lagi kalau di OSPEK, mungkin mereka akan sedikit iba. Secara biasanya OSPEK berjalan mengerikan. Hiiii…..
Hari keempat masuk kampus, aku mulai merasa tidak enak badan. Kecapean, begitu hipotesaku. Dan tidak enak badan tidak bisa dijadikan alasan untuk cabut dari kelas. Jadi aku tetap masuk kampus seperti biasa.
Dua hari tidak enak badan, aku merasa demam. Tapi tidak seorang pun makhluk di rumah percaya. Karena badanku tidak terasa panas diluar, begitu kata mereka. Jadilah aku mendekam di kamar saja. Hari ketiga aku mulai merengek untuk dibawa ke dokter. Dan akupun dikasi obat sama dokterku, Cuma lima macam.
Mulai dari dugaan demam, maag, dll.
Pas buka puasa, obat yang lima macam itupun aku minum perdana. Dan akupun merasa efek langsung dari obat-obat itu. Badanku gatal-gatal. Abangku langsung beranggapan kalau aku alergi sama obatnya.
Sebelum tidur, seharusnya aku minum obat lagi. Tapi aku hentikan obatnya. Badanku semakin gatal saja rasanya. Selesai tarawih, aku berniat tidur. 15 menit memejamkan mata. Setengah jam… satu jam… sudah jam 12 malam. Oooh tidaaaak,,, badanku semakin gatal saja rasanya. Akupun berasumsi lain. Mungkin karena dari pagi aku belum mandi makanya gatal-gatal begini. Kalo demam ga boleh mandi kan??? Tapi aku dilemma juga buat mandi tengah malam. Mandi senja saja emakku marah, rematik katanya.
Aku ambil alternative lain. Aku ganti pakaian saja. Trus kembali berusaha tidur. Setengah jam… masih juga gatal-gatal. Dengan sebal, aku bangkit. Lalu dengan kesal mengganti selimut, seprai, dan sarung bantal. Satu jam… aku masih juga guling-guling gak jelas. Gataaal….
Jam 2.30 pagi, tepat. Aku menyerah. Aku langsung ambil handuk. Masuk kamar mandi. Dingin mengerikan. Brrrrr….. *bagi yang belum pernah, jangan coba!*
Jam 3 pagi, aku tidak bisa sabar menahan gatal. Juga menahan kantuk. Akhirnya aku ngaji. Tapi tidak sanggup menghabiskan lebih banyak dari dua lembar alqur’an dalam gatal yang menyiksa ini.
Jam 3.30, aku gedor-gedor pintu kamar emakku. Berniat baik membangunkan sahur. Tapi emakku malah misuh-misuh. Kepagian katanya. Emakku tidur lagi, aku pun guling-guling lagi. Jam 4 pagi, aku terobati dengan bangunnya orang-orang rumah karena aku tidak terbangun sendirian lagi.
Selesai sahur, aku masih juga mencoba tidur. Jam 8 aku ada kelas Mekanika Rekayasa. Dan menjelang jam 8 pagi, aku tidak bisa tidur sedikitpun! Sedetik pun! Masya ALLAH, ini benar-benar mengerikan dalam sejarah hidupku.
Aku berangkat kuliah sodara-sodara. Dengan mata sembab. Dan tidak diantar pula. Huwaaaa….
Pulang kuliah, aku lihat badanku penuh sama bintik-bintik merah. Aku khawatir, alergi obat model apa ini???
Selesai buka puasa, aku langsung ke dokter lagi. Membawa sekantong obat sebagai barang bukti.
“ini obat yang dikasi kemarin. Saya jadi gatal-gatal mbak” kataku dengan perawat jaga.
“oooohh.. ayo cepat masuk” kayaknya alergi obat adalah masalah besar sodara-sodara. Perawatnya sampai shock, buru-buru manggil dokter.
Trus, riwayat obatku pun dibuka. Kelima macam obat yang dikasi kemarin itu semuanya udah biasa dikasi ke aku. Dan tercatat sejak SMP *ketahuan penyakitan* dulu, obat ini tidak ada masalah buatku. Dokterku jadi bingung.
“jangan-jangan…” apa sih dok?
“jangan-jangan…” jangan-jangan apa???
Si dokter memeriksa belakang telingaku.
“kamu kena campak dek” gubrak!
Campak. Bukan alergi obat!
Sebagai gantinya, aku dikasi obat baru. Gak jauh beda dari yang kemarin. Hanya TUJUH macam.
Aku syukuri saja tujuh macam obat dan penjelasan yang ilmiah atas sakitku ini. Akupun sampai kembung minum air karena harus meluncurkan tujuh macam obat ke lambungku.
Alhamdulillah, malamnya aku sudah bisa tidur lagi. Thanks god.
Dan akupun pulih total dalam waktu seminggu. Mestinya bisa lebih cepat, tapi karena aku cuma bolos kuliah sehari, akupun tidak bisa istirahat total. Ya sudah.. yang penting sudah sehat. Alhamdulillahirobbil ‘alamiin…
Komentar