Jamuan Tamu

Hari ini, kehidupan membawa saya untuk berkenalan dengan seorang perempuan muda yang sedikit lebih tua dari saya selang beberapa tahun dari usia hampir dewasa saya.
Kami terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan perkenalan biasa. Tentang irisan-irisan yang membawa kami untuk menemukan sedikit kecocokan di menit-menit pertama perkenalan.

Bekerja di bawah atap usaha yang sama. Dengan gender yang sama-sama resesif di antara kerumunan pekerja lainnya yang bergender pria, aku pikir kami akan punya banyak persamaan dalam cerita-cerita suka duka, tentang menjalani hari-hari penuh tanggung jawab kepada bangsa ini.

Namun ternyata kutemukan perbedaan yang krusial dalam keluhan duka kami. Kuanggap lelahku adalah keluhan, namun ia menginginkan kelelahanku. Ia menginginkan apa yang aku miliki dan aku tidak. Tapi juga sebaliknya.

Baginya, aku dengan periode pengabdian yang tidak lebih banyak darinya, telah berada pada posisi idaman bagi banyak orang yang sudah lebih dulu berlelah-lelah bertahun-tahun namun belum juga sampai. Baginya aku haruslah banyak bersyukur.

Bagiku, kehidupannya mendekati sempurna, untuk ukuran target-target hidup manusia kebanyakan.
Impianku.
Bekerja tidak dengan tanggung jawab berlebihan, namun punya pemasukan sendiri yang bisa menopang kemandirian dan terhindar dari kebergantungan penuh.
Punya keluarga dan tidak perlu pusing-pusing menghadapi macam-macam pertanyaan ini-itu dari yang mulai peduli sampai yang nyinyir ikut-ikutan.

Namun, lagi, manusia, selalu merasa tak cukup, dan selalu lupa bersyukur.


Beberapa jam menjelang usia hampir dewasa sudah seharusnya dipikirkan untuk menghilangkan kata hampir nya.
Pekanbaru, Transmisi 500 kV Sumatera Site Office,
PT. Waskita Karya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukankah Kita Bersaudara?

Ada yang Mau Ngucapin Tahniah*???