Bukankah Kita Bersaudara?
Tangis mereka mungkin tak cukup. Teriakan gerah melepas amarah tak kuasa di simpan. Darah berceceran bagaikan air kran di rumah kita. Hidup mereka hancur. Jauh berbeda dengan kita, yang masih bebas pergi sana-sini. Mengeluhkan perihal kelangkaan bahan bakar padahal saudara kita disana sedang berhadapan dengan peluru. Kita masih makan tiga kali sehari, mungkin sambil nonton tipi atau bersenda gurau dengan orang tercinta. Mereka sedang bersiap dengan ancaman bom yang mungkin meluluh lantakkan hidup mereka.Ah, saudaraku. Kau sedang apa disana?
Apakah kau punya uang? Punya pakaian bersih? Tersediakah air? Apakah ada bahan makanan di rumahmu? Atau, apakah kau masih punya rumah?
Headline di koran-koran membuatku miris.
” mengirim relawan Jihad ke jalur Gaza adalah usaha sia-sia. Boleh saya katakan, mustahil boleh masuk ke Jalur Gaza saat ini untuk maksud apapun, termasuk tujuan kemanusiaan.”
Abdurrahman Mohammad Fachir – Dubes RI untuk Mesir –
Aksi kemanusiaan dilakukan dimana-mana. Termasuk tadi di kampus, saat saya baru memasuki kawasan kampus, di persimpangan kampus FMIPA ada banyak akhwat-akhwat yang membawa bendera Palestina kecil di tangan mereka. Di satu tangan lagi mereka memegang kotak untuk menampung simpati khalayak ramai. Aku berhenti di salah satu akhwat. Senyum. Ah, aku rindu senyum para akhwat yang tulus itu. Tak kenal siapa, tak pernah bertemu, tapi ada senyum persahabatan pada mereka.
ALLAHUAKBAR!
Aku sengaja melambatkan motorku di setiap persimpangan atau di sisi jalan yang ada ikhwahnya. Sekedar meneriakkan ALLAHUAKBAR menyemangati mereka yang ikhlas. Mungkin malah lebih menyemangati diriku sendiri, untuk berubah. Aku terlalu mempermasalahkan banyak hal kecil dan kurang bersyukur selama ini.
Walaupun sebelum aksi ini terjadi aku sudah membaca sekian banyak pemberitaan yang mengatakan ditutupnya akses dari dan ke Palestina, ada haru yang luar biasa muncul saat melihat simpati banyak orang di kampus. Banyak orang yang punya hati. Dan di hatinya ada cinta kasih. Subhanallah...
Materi yang kita berikan tidak sesuai. Mungkin tidak ada apa-apanya. Mungkin juga tidak bisa sampai ke tangan mereka. Ada cara lain yang mungkin sepertinya ampuh dan manjur. DOA.
Ya, bukan berarti lepas tangan dengan tidak membantu apa-apa dan menumpukan semuanya pada do’a. Tapi kepada ALLAH lah kita berharap. Tiada tempat mengadu dan meminta yang lebih baik, kan? Semoga ALLAH melindungi saudara-saudara kita disana. Memberikan tempat yang tinggi dan mulia. Amin.
Komentar
Btw, maksudnya award mau diapain?
sorry rada katrok..
hehe..
@ hadie: award,, ga ada. cuma bayar hutang aja. award itu penghargaan. ki2 dikasi award. biasanya setiap pemberian awar itu disuruh ngasi ke orang lagi
Mau ikut perang ndak mungkin...
Bantu do'a.. dosa saya aja udah numpuk...
mbantu sumbangan... anak kost paling cuma gopek doang hahaha...
jadi apa... ya nyumbang harapan aja kayaknya lumayan dah
hati2 kLu mo nyumbang & ngbantu,
jgn pada iran, lebanon, dan hisbullah,mereka adalah syi'ah rafidhoh,
jg jgn ama hamas, mereka lah biang semua ini,
kLu mw banu ama mer c aja..