berlibur ala puan lawa

Berlibur adalah tema paling hot saat ini. Banyak orang menghabiskan musim libur dengan tamasya kemana-mana, keliling dunia barangkali*awas pusing!*, aahhh... whatever lah.

Libur udah masuk hari ke empat. Jatah libur cuma dua minggu. Dan memikirkan pergi liburan saat ini sudah tidak tepat. Ibarat menegakkan benang basah(anggap aja nyambung!). Semua karena pergi libur butuh waktu lama. Butuh uang banyak. Butuh kondisi tubuh yang fit. Ya sudahlah. Uang jatah libur sudah terbang ke awang-awang. Uang saku sampai akhir februari yang udah di tangan juga entah kemana. Mana sekarang musim gampang sakit, ya kan? Jadi aku di rumah saja.

Kegiatanku di rumah dalam rangka menghabiskan liburan nanti saja aku ceritakan, insya Allah menyusul.

Kalian ingat dengan postinganku yang ini???
Nah, aku belum bilang kan kalau kegagalan pada Juli itu terbalaskan pada Agustus? Memang, riski sudah dijatah. Hakku tidak akan menjadi milikmu, dan hakmu tetap untukmu. Jadi, pelajaran moral kali ini, jangan terlalu cepat kecewa, jangan cepat bersedih dan putus asa. Hohoho...

Poto ini diambil di pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru. Pulang liburan. mereka adalah biksu, tapi perempuan! jadi kata abangku, mereka disebut biksuni, atau apa lah namanya. ibaratnya kalau dalam Islam, mereka itu akhwat banget kali ya???

Jadi, pulau tak berpenghuni yang kumaksud di postingan itu adalah pulau Merbau. Bukannya tidak berpenghuni, itu cuma metafora. Hanya saja, di Pulau ini tidak ada listrik. Tidak ada telepon kabel. Ada sinyal buat satu jenis kartu seluler saja.Rumah-rumah cuma dialiri listrik pada malam hari, saat mesin-mesin jenset dihidupkan sampai mesin itu nantinya mati sendiri setelah satu liter solarnya habis. Dan detik-detik berharga benar-benar terasa disini. Setiap orang akan meng-charge ponselnya karena mulai jam 9 malam sampai jam 6 sore esok hari, tidak ada masa untuk melakukan itu.

Akses menuju pulau ini cuma satu. Jam 7 pagi kapal motor-jangan bayangkan kapal besar, juga bukan sampan- berangkat dari pulau ini menuju Selat Panjang. Dan jam 2 sore kapal itu akan berangkat dari Selat Panjang menuju Pulau Merbau ini. Ongkosnya
Rp. 20.000,00 per orang. Mengapa Selat Panjang? Karena jembatan terdekat dari pulau Merbau ini terhadap peradaban cuma Selat Panjang. Di Selat Panjang ada kapal besar, feri, boat, menuju Pekanbaru, Batam, Tanjung Pinang, Karimun, dll. Dan Selat Panjang lah yang menyediakan sayuran yang diimpor dari Pekanbaru dan tempat lainnya untuk penduduk Pulau Merbau. Serius!

Yang membahagiakan dari perjalananku adalah makan. Haha...
Seafood disini ruar biasa! Jelaslah beda jauh dari Pekanbaru. Bukan berarti di Pekanbaru menemukan seafood seperti menemukan kucing di kandang beruk(ngasal, again). Tapi keberagaman seafood disini amazing. Hhhmmm.... laziiiizzz... Ya iyalah. Namanya juga pulau. Pekanbaru kan daratan. Gimana siiiihhh...

Jadi, walaupun ga pergi berlibur, anggap saja cerita ini adalah laporan perjalanan terkini saya.

Komentar

.:shev:. mengatakan…
ini mah pergi BERLIBUR . enak juga ke pulau yang tak berpenghuni . daripada hanya diam di kamar ngutak atik komputer tiap hari . dan script yang klo sudah buntu bikin otak serasa mendidih . ke pulanu tak berpenghuni tuh salah satu impianku . kapan ya aq bs ksana ?

haha . ngaco . surabaya-pekanbaru jauh . tp sapa tau ada yang ngeliat comment ini dan jadi kasian ama aq . trs di kasih tiket ke pekanbaru . gratis . ada yang mau ? :P
kiki ali mengatakan…
@ ahmad sheva : bukaaannn...
berliburnya udah lama. sekarang ga berlibur. jadi kisah liburan kemarin diceritain sekarang.

eh eh,,
pulau tak berpenghuni yang ki2 maksud bukan pekanbaru.
jadi ga ada tiket gratis buat ke pekanbaru.
:p

Postingan populer dari blog ini

Ada yang Mau Ngucapin Tahniah*???

Jamuan Tamu

mekanika teknik akihrnya ujian