Postingan

Menampilkan postingan dengan label jalan-jalan

Membangun Hululais

Gambar
Gais. Inilah hidup ya. Tentang apa yang kamu pilih dan apa yang dihadapkan kepadamu setelah itu. Untuk ukuran baru menjalani hidup seperempat   abad ini mungkin pandangan dan penilaian saya terhadap hidup belum sepantasnya untuk memulai cerita ini dengan kalimat “inilah hidup ya”. Yasudah, kalau begitu saya akan ganti dengan cerita lain. Inilah Lebong, Bengkulu. Negeri yang Indah di balik gunung dan pegunungan Indonsia Raya. Udaranya segar sepanjang hari. Mataharinya terik dan berkilau. Malamnya dingin dan menjaga. Dikeliingi pohon-pohon besar tua dan kebun masyarakat. Menemukan fauna-fauna baru yang menawan dan ajaib . Jalan berbatu yang setiap pagi dilalui oleh petani kopi dengan keranjang di punggung yang ditumpukan di kepala. Disitu pula mobil proyek bersisian setiap pagi menuju lokasi proyek. Yaaaah. Kecewa ya? Hihi. Iya, ini bukan tentang cerita menyenangkan, ini cerita tentang pekerjaan. Terjebak ya. Hihi terimalah jebakan kehidupan ini. Gais, berada jauh dari...

Di waterboom ada beruang !!!

Keinginanku akan terkabul. Benar-benar indah. Kalau saja aku tidak bokek. Aku benci liburan!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Disaat anak liqo mau ke waterboom, aku tidak berduit. Satu rupiah pun tidak punya . Aku ngeri kalau membayangkan libur dua bulan tanpa uang satu rupiah pun. Hiiiiiii.... Akhirnya aku memantapkan hati kalau tidak bisa ikut ke waterboom bukan masalah besar. Aku mengobati diri dengan pergi les. Nyusul try out minggu lalu di NF. Aku gak datang. Sampai di NF. ” bang, kiki mau nyusul TO kemampuan dasar ” ” eeeee,,,, si kiki!!! Hasil TO-nya udah dikirim ke Jakarta!!! ” ” Haaaah????!!!!!!!!!!!!!!!!!! ” akhirnya aku minta juga soal itu. Karena tidak akan dikirimkan ke jakarta punyaku yang sebiji ini, aku malas-malasan ngerjainnya. Ujung-ujungnya malah ngobrol sama bang Indra. Mulai dari cerita masa lalunya waktu dia kuliah, kerja di Duri, punya anak, trus nikah. Maksudnya bang indra adopsi anak orang sebelum nikah. Sampai cerita kepahitan masa-masa awal nikahnya, saat tiada h...

Back to The Jungle

yeay! halo november!! udah lama ya ga ketemu :p yuk mari kita cerita lagiiii :D kali ini kita ga cerita kapan wisuda yah? biarkanlah posting tentang itu menjadi sebuah update paling fenomenal nanti. hihiii *menghindar mode on* mmmm penting memberi tambahan kata "paling" di depan kata fenomenal itu. karena akan ada posting terfenomenal nanti, semacam posting tentang pernikahan, kelahiran anak, ciyaaaaaaaat.. wakakakak. iyah, saia berharap masi bisa menulis di page ini dan page saia yang lainnya hingga dunia menjadi sangat canggih nanti sehingga anak cucu dan generasi selanjutnya masih bisa takjub berkaca-kaca menyimak kehidupan saia di masa ini yang cita mulia dan cetarrrrrr membahana ini. wahahahahahahaa.. nnnnnah, pemirsa masih ingat dengan kakak perempuan saia? iya, yang saia panggil alung itu. sudah setahunan lebih alung menjalani hari-hari bersama saia di kamar kapal pesiar kami yang tak pernah bisa dilewati anak marmut sekalipun itu. dia menjalani LDR sama suaminy...

Menara Lima Negeri

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa Jika di dalam hutan. Imam Syafi’i Sumber: setelah ucapan syukur dan terimakasih, selembar sebelum halaman pertama, novel ai yang udah dipinjamin ke saia sejak Ramadhan, Negeri Lima Menara. Tidak ada penjelasan tentang kalimat-kalimat berantai di atas. Hanya suka saja ^_^

Apa Salah Swallo* Mengandung

Mestinya, ujian kayu jadi ujian yang terakhir. Dan kita anggap saja begitu. Sooo… teman-teman saia udah pada kepikiran hedon aja. Siiiiibuk ngomongin diskon di toko ini itu. Gaya sih emang pada ngomongin diskon, tapi apalah daya… garis ekonomi sedang jatuh tuh tuh tuh dibawah center line. Pada miskin semua setelah perjuangan di medan pertempuran bernama tubes. Dan duit yang rata-rata cuma pada punya sepuluh ribu sedikitpun tak melemahkan hasrat mereka buat hedon. Oke, mereka. Karena saiaaa belum bisa hedon. Laporan praktikum saia belum selesai. Nasibb.. Biasalah para wanita lagi arisan. Dari ngomongin a bisa sampai f dan tanpa penghubung yang jelas bisa sampai dengan sukses ke z. tanpa lelah. Fiuuuuuhhhh…. Lalalalalala~~~ Lagi ngomongin diskon, sambil ngeliatin kaki-kaki yang melangkah dan sepatu yang dipakainya, sampai nebak harganya, beli di toko apa, merk apa.. dan dengan tak berprikesandalan sampailah ceritanya ke sandal jepit swallo* saia. Kata mereka semua sih… BURUK! Apa sih yan...

Mimi sayang Mimi malang

Gambar
Awalnya ilmu sakti dukun saia ga bisa memprediksi kalau hari ini akan ada cerita aneh dan memalukan—lagi dan lagi— yang bakal menambah sederetan panjang cerita bodoh masa-masa muda nan bahagia saia. Mimi, teman saia sedari SMP, yang hobi banget ngekor riwayat pendidikan saia-jangan sampai Mimi baca fitnah ini- dipertemukan takdir lagi dengan saia di bangku perkuliahan. Sekelas pula. Tsaaahhh... bahasanyaa.. Setelah libur menjelang SP yang hampir tak terasa udah mau abis aja, Mimi pun ngajakin saia belanja-belanji.. saia selaku teman yang baik banget, ya nemenin donk.. Dan cerita hari ini pun membuat saia beli pulsa dengan duit yang tak tersisa seberapa buat modem saia. Cuma buat cerita kejadian hari ini. Dimulai dari nemenin Mimi nungguin dosen Beton, Pembimbing Akademisnya si Mimi. Dia mau minta tanda tangan buat KRS gitu.. sampai... sampai... sampai... tik.. tik.. tik.. pertemuan dibatalkan. Daaaaaan selaku mahasiswa yang baik, yaudin deh.. kita cabut dari lab struktur yang gelap dan...

Jangan Bosan Dengan Lampu Merah :D

Cuaca begini namanya bersahabat. Matahari bersinar sekedar, dan hujan pun tidak. Angin sepoi-sepoi jadi AC pun tak difungsikan. Sore yang tenang di jalanan yang sepi dengan pengemudi yang tak mahir. Kakak saia. Kalau di jalanan ramai cuaca begini pun hati terasa gerah memprediksi kejadian-kejadian bodoh yang akan membuat malu. Saia duduk di kursi sebelahnya sambil mengunyah. Kami baru saja singgah ke toko roti. Bukan tujuan utama, tapi mumpung lewat, ya nasib kantong kakak saia terkeruk untuk menyalurkan nasib kelaparan dan pemenuhan selera saia. Haha.. ada roti keju enam potong. Sudah saia habiskan satu. Dan ini roti yang kedua. Setting lampu merah kali ini berada di jalan samping Mesjid Agung Annur, di Pekanbaru saia. Artinya, saia tidak tahu nama jalannya. Dengan asumsi bahwa jalan hangtuah adalah sisi samping satunya lagi. Karena saia tak tahu mesjid ini depannya yang mana. Hahahaha.. parah. Simpang empat, tapi jalan yang aktif cuma tiga, dan jalan yang kami berhenti di lampu merah...

Cerita Kesekian Tentang Lampu Merah

Ini murni cerita tentang pengalaman saia saja. Saia luangkan waktu di sela-sela mengerjakan laporan Hidrolika. Karena laporan Mekanika Tanah saia sudah resmi Alhamdulillah diberikan Allah kemudahan untuk menyelesaikannya sekalipun dengan sekian juta sakit hati dan caci maki dalam hati. Sehingga apa? Insya Allah laporan itu membuat saia bias ikut UAS semester ini dan dengan begitu saia punya kesempatan lebih besar untuk bisa ambil kelas MekTan II dan semoga bisa lanjut ke Pondasi dan subject-subject lain yang terkait nanti, kalau saia masih hidup dan bertahan di teknik sipil ini. Oke, prolog melenceng. Meleset. Tadi rencananya tidak ingin menyangkut sedikitpun tentang perkuliahan saia. Tapi apalah daya. Terimalah takdir anda telah sampai kesini, dan mungkin mood anda berubah jadi rusak setelah singgah plus baca. Kasian ya? Hahaha… maapin saia. Dan segala kalimat-kalimat tak senonoh saia. Saia memaksakan diri untuk menutup tahun ini dengan sedikit cerita karena arsip tahun ini sedikit se...

Terselamatkan

Gambar
bismillah.. dapat dari sini saia selamaaaat. hahahaha cuma mau menumbuhkan kembali keinginan untuk menulis. sekalipun entah menulis apa. pokoknya menulis sajalah!

Mereka yang Hidup dan Lahir di Jalan

Gambar
Renyai di sore hari, hawa hujan masih terasa. Aku berhenti saat lampu merah menyala. Dan kulihat satu-satu orang yang memanfaatkan momen ini untuk menyeberang. Berbagai macam jenis orang dengan setelan berbeda, ekspresi berbeda, kuikuti dengan dua mataku. Pengamen yang bernyanyi sumbang dengan kecrekannya berdiri di samping kaca mobil tak jauh dariku. Anak-anak, tapi menyanyikan lagu percintaan orang dewasa. Tak pantas saja kedengarannya. Satu orang lagi melintas. Biasa saja, tidak menor tapi agak mencolok. Memikul dua kotak yang berada di kedua ujung kayu yang dihubungkan dengan kayu melengkung di pundaknya. Tukang sol sepatu. Aku ikuti sosoknya sampai tak terlihat. Banyak yang terpikir olehku. Sejak jam berapa ia menjajakan jasanya setiap hari? Berapa penghasilannya? Sebandingkah dengan langkahnya menghitung ruas jalan sampai entah kapan akan dipanggil orang? Berapa cepat sepatunya sendiri habis bergesekan dengan aspal dan bebatuan kering? Di zaman seperti ini, masih ada tukang sol s...

terdampar saat blogging

Ada dua orang dari masa lampau yang menjalani kehidupannya masing-masing secara paralel.. lalu sekarang jalan mereka bersinggungan.. let's see.. ada tiga kemungkinan.. 1. keduanya berpotongan dan menjauh 2. paralel (menjadi satu) 3. entahlah.. selalu ada kemungkinan lain kan nemu di blog orang . simple tapi saia suka :)