Mimi sayang Mimi malang
Awalnya ilmu sakti dukun saia ga bisa memprediksi kalau hari ini akan ada cerita aneh dan memalukan—lagi dan lagi— yang bakal menambah sederetan panjang cerita bodoh masa-masa muda nan bahagia saia.
Mimi, teman saia sedari SMP, yang hobi banget ngekor riwayat pendidikan saia-jangan sampai Mimi baca fitnah ini- dipertemukan takdir lagi dengan saia di bangku perkuliahan. Sekelas pula. Tsaaahhh... bahasanyaa..
Setelah libur menjelang SP yang hampir tak terasa udah mau abis aja, Mimi pun ngajakin saia belanja-belanji.. saia selaku teman yang baik banget, ya nemenin donk..
Dan cerita hari ini pun membuat saia beli pulsa dengan duit yang tak tersisa seberapa buat modem saia. Cuma buat cerita kejadian hari ini. Dimulai dari nemenin Mimi nungguin dosen Beton, Pembimbing Akademisnya si Mimi. Dia mau minta tanda tangan buat KRS gitu.. sampai... sampai... sampai... tik.. tik.. tik.. pertemuan dibatalkan. Daaaaaan selaku mahasiswa yang baik, yaudin deh.. kita cabut dari lab struktur yang gelap dan gothic-gothic gimanaaaa gitu dengan sekian juta sarang laba-laba disisi manapun. Khukhukhu.....
Dengan derita tiap hari selama satu semester selalu makan yang itu-itu aja di sekitaran kampus, jadilah kami makan siang di kota gitu. Jauuuuh dari kampus, yang tidak di kota. Dan selanjutnya ingin menjalankan rencana beli sepatu. Mimi. Bukan saia...
Well.. Ujing sama Debod mau ikut. Mau merusak romantisme kami berdua. Sungguh tak sopan. Yang awalnya mau belanja adalah si Mimi, ujung-ujungnya malah manusia dua biji itu yang sibuk keliling-keliling. Saia, capek. Saia, haus. Saia, beli minum (es). Saia, ngekor. Saia, keringatan. Saia, mau pulang-maksud hati yang tak bisa disampaikan-. Saia, pegal. Saia, kehabisan napas. Saia, beli minum lagi (es lagi). Saia, ngekor lagi. Saia, capek. Saia, TIDAK HOBI BELANJA GILA HINGGA TAK PULANG-PULANG.
Dan saiaaaaaaaaaaaaa..... KRAM! horaaaaaaaaaiiii!!!!!
Ber-aduh ria sambil mau menjatuhkan diri. Kaki saiaaaa.... jari telunjuk sama jari tengah kaki saia, seakan tak cukup dekat hidup berdampingan selama hampir 20 tahun, malah dempet-dempetan sampai ga mau dilepas!!
Saia udah duduk di lantai aja. Sebodo amat diliatin. Saia cuma bisa misahin jari yang dua biji itu biar ga dempet-dempetan.. asal saia lepas lagi, dempeeeeet lagi.. sakiiit lagi... sakit sampai lutut. Hiks hiks...
Kepikiran mau pulang duluan. Pake bus. Tapi motor mau diapain?? Mau minta jemput. Minta jemput siapaaa?? Pacar tak ada. Kalau kata dosen saia, cuma orang gila sama orang buta yang mau sama saia. Abang? I have no brother anymooooore... abang-abang saia udah diambil orang semua.

Tiba-tiba kaki saia diambil Mimi. Dipijitin. DIPIJITIN!!!
Hiks.. saia terharu tanpa air mata. Mimi yang baik.. Ujing sama Debod? Udah lanjuuuuuut keliling lagi belanja-belanji.
Jadi teringat memori mau UTS MekTek 4 dulu. Waktu itu saia sibuk dengan lab dan laporan Mektan saia.. saia pulang sore tiap hari. Sampai rumah udah tepartak bernyawa. Tiba-tiba, saia dikabarin kalo anak-anak pada nginap di kontrakan Ijul (gender: perempuan). Belajar bareng. Dan saia absolutely mau ikutan doooonk....
Jadilah saia malam itu diantar abang saia ke rumah Ijul. Saia yang dalam kondisi sakit kepala tak tanggung-tanggung. Masuk angin yang bikin lemah. Semakin bertambah-tambah lemah karena ponakan saia pacu-pacuan konser ngalahin lagu anak-anak yang diputar di tape selama perjalanan yang jauh banget nuuun ke Panam City sana.
Sampai rumah Ijul, anak-anak udah pada sibuk sama kertas-kertas berserakan tentang slope deflection. Saia langsung berbelok ke TKP(baca: kamar ijul). Dan adegan berjumpa dengan pujaan hati pun tak terelakkan lagi.
Bantal oh bantal...
Saia yang gagal tidur. Anak-anak yang ribut. Bantal yang beda rasa dengan bantal pujaan hati di rumah sendiri... Saia pun bangun. Ikutan duduk bareng-bareng. Niatnya sih mau ikut belajar. Tapi saia diusir karena request saia yang tak dapat dipenuhi, minta matiin kipas angin. Akhirnya saia kembali ke pangkuan bantal Ijul tak tercinta.. meringis sakit sesekali.. merengek manja minta dilempar pake sendal..
Datanglah Mimi tercinta. Saia tau cintanya pada saia tak seperti cintanya pada pacarnya. Namun saia sudah cukup dicintai dengan sebegini rupa. Karena saia bukan penyuka sesama.
Mimi mijitin punggung saia.. ngolesin (baca: menumpahkan) minyak kayu putih Ijul ke punggung saia sampai minyak kayu putih inventaris Ijul habis. Disuruh makan panad*l, yang lagi-lagi inventaris Ijul…
Saia pun tertidur bahagía hinggá tak belajar MekTek sampai paginya. Dan hanya belajar ala kadarnya menjelang UTS siangnya.
Anak-anak lain, tak ada yang mau jadi tukang pijit saia. Saia tau, bukan karena tak sayang—PD amat— saia.. tapi karena belem mengenal saia selama Mimi mengenal saia.
Dan sekali lagi, kalau Mimi baca ini… sungguh Mimi bukanlah menjadi berarti bagi saia karena mau mijitin saia sajaa… bukan saiaaang…
Kalau engkau lelaki, sudah kujadikan suami deh. Ahahahaha…
Mimi, teman saia sedari SMP, yang hobi banget ngekor riwayat pendidikan saia-jangan sampai Mimi baca fitnah ini- dipertemukan takdir lagi dengan saia di bangku perkuliahan. Sekelas pula. Tsaaahhh... bahasanyaa..
Setelah libur menjelang SP yang hampir tak terasa udah mau abis aja, Mimi pun ngajakin saia belanja-belanji.. saia selaku teman yang baik banget, ya nemenin donk..
Dan cerita hari ini pun membuat saia beli pulsa dengan duit yang tak tersisa seberapa buat modem saia. Cuma buat cerita kejadian hari ini. Dimulai dari nemenin Mimi nungguin dosen Beton, Pembimbing Akademisnya si Mimi. Dia mau minta tanda tangan buat KRS gitu.. sampai... sampai... sampai... tik.. tik.. tik.. pertemuan dibatalkan. Daaaaaan selaku mahasiswa yang baik, yaudin deh.. kita cabut dari lab struktur yang gelap dan gothic-gothic gimanaaaa gitu dengan sekian juta sarang laba-laba disisi manapun. Khukhukhu.....
Dengan derita tiap hari selama satu semester selalu makan yang itu-itu aja di sekitaran kampus, jadilah kami makan siang di kota gitu. Jauuuuh dari kampus, yang tidak di kota. Dan selanjutnya ingin menjalankan rencana beli sepatu. Mimi. Bukan saia...
Well.. Ujing sama Debod mau ikut. Mau merusak romantisme kami berdua. Sungguh tak sopan. Yang awalnya mau belanja adalah si Mimi, ujung-ujungnya malah manusia dua biji itu yang sibuk keliling-keliling. Saia, capek. Saia, haus. Saia, beli minum (es). Saia, ngekor. Saia, keringatan. Saia, mau pulang-maksud hati yang tak bisa disampaikan-. Saia, pegal. Saia, kehabisan napas. Saia, beli minum lagi (es lagi). Saia, ngekor lagi. Saia, capek. Saia, TIDAK HOBI BELANJA GILA HINGGA TAK PULANG-PULANG.
Dan saiaaaaaaaaaaaaa..... KRAM! horaaaaaaaaaiiii!!!!!
Ber-aduh ria sambil mau menjatuhkan diri. Kaki saiaaaa.... jari telunjuk sama jari tengah kaki saia, seakan tak cukup dekat hidup berdampingan selama hampir 20 tahun, malah dempet-dempetan sampai ga mau dilepas!!
Saia udah duduk di lantai aja. Sebodo amat diliatin. Saia cuma bisa misahin jari yang dua biji itu biar ga dempet-dempetan.. asal saia lepas lagi, dempeeeeet lagi.. sakiiit lagi... sakit sampai lutut. Hiks hiks...
Kepikiran mau pulang duluan. Pake bus. Tapi motor mau diapain?? Mau minta jemput. Minta jemput siapaaa?? Pacar tak ada. Kalau kata dosen saia, cuma orang gila sama orang buta yang mau sama saia. Abang? I have no brother anymooooore... abang-abang saia udah diambil orang semua.

Tiba-tiba kaki saia diambil Mimi. Dipijitin. DIPIJITIN!!!
Hiks.. saia terharu tanpa air mata. Mimi yang baik.. Ujing sama Debod? Udah lanjuuuuuut keliling lagi belanja-belanji.
Jadi teringat memori mau UTS MekTek 4 dulu. Waktu itu saia sibuk dengan lab dan laporan Mektan saia.. saia pulang sore tiap hari. Sampai rumah udah tepar
Jadilah saia malam itu diantar abang saia ke rumah Ijul. Saia yang dalam kondisi sakit kepala tak tanggung-tanggung. Masuk angin yang bikin lemah. Semakin bertambah-tambah lemah karena ponakan saia pacu-pacuan konser ngalahin lagu anak-anak yang diputar di tape selama perjalanan yang jauh banget nuuun ke Panam City sana.
Sampai rumah Ijul, anak-anak udah pada sibuk sama kertas-kertas berserakan tentang slope deflection. Saia langsung berbelok ke TKP(baca: kamar ijul). Dan adegan berjumpa dengan pujaan hati pun tak terelakkan lagi.
Bantal oh bantal...
Saia yang gagal tidur. Anak-anak yang ribut. Bantal yang beda rasa dengan bantal pujaan hati di rumah sendiri... Saia pun bangun. Ikutan duduk bareng-bareng. Niatnya sih mau ikut belajar. Tapi saia diusir karena request saia yang tak dapat dipenuhi, minta matiin kipas angin. Akhirnya saia kembali ke pangkuan bantal Ijul tak tercinta.. meringis sakit sesekali.. merengek manja minta dilempar pake sendal..
Datanglah Mimi tercinta. Saia tau cintanya pada saia tak seperti cintanya pada pacarnya. Namun saia sudah cukup dicintai dengan sebegini rupa. Karena saia bukan penyuka sesama.
Mimi mijitin punggung saia.. ngolesin (baca: menumpahkan) minyak kayu putih Ijul ke punggung saia sampai minyak kayu putih inventaris Ijul habis. Disuruh makan panad*l, yang lagi-lagi inventaris Ijul…
Saia pun tertidur bahagía hinggá tak belajar MekTek sampai paginya. Dan hanya belajar ala kadarnya menjelang UTS siangnya.
Anak-anak lain, tak ada yang mau jadi tukang pijit saia. Saia tau, bukan karena tak sayang—PD amat— saia.. tapi karena belem mengenal saia selama Mimi mengenal saia.
Dan sekali lagi, kalau Mimi baca ini… sungguh Mimi bukanlah menjadi berarti bagi saia karena mau mijitin saia sajaa… bukan saiaaang…
Kalau engkau lelaki, sudah kujadikan suami deh. Ahahahaha…
Komentar
:piss: