Mereka yang Hidup dan Lahir di Jalan
Renyai di sore hari, hawa hujan masih terasa. Aku berhenti saat lampu merah menyala. Dan kulihat satu-satu orang yang memanfaatkan momen ini untuk menyeberang. Berbagai macam jenis orang dengan setelan berbeda, ekspresi berbeda, kuikuti dengan dua mataku. Pengamen yang bernyanyi sumbang dengan kecrekannya berdiri di samping kaca mobil tak jauh dariku. Anak-anak, tapi menyanyikan lagu percintaan orang dewasa. Tak pantas saja kedengarannya.
Satu orang lagi melintas. Biasa saja, tidak menor tapi agak mencolok. Memikul dua kotak yang berada di kedua ujung kayu yang dihubungkan dengan kayu melengkung di pundaknya. Tukang sol sepatu. Aku ikuti sosoknya sampai tak terlihat. Banyak yang terpikir olehku. Sejak jam berapa ia menjajakan jasanya setiap hari? Berapa penghasilannya? Sebandingkah dengan langkahnya menghitung ruas jalan sampai entah kapan akan dipanggil orang? Berapa cepat sepatunya sendiri habis bergesekan dengan aspal dan bebatuan kering? Di zaman seperti ini, masih ada tukang sol sepatu saudaraku. Disaat orang sudah dengan gampang menyemir sepatunya sendiri. Membiarkan sepatu yang cacat sedikit terpuruk di rak sepatu untuk dimuseumkan saat nanti-nanti teringat.
Aku sedih melihatnya. Adakah istrinya? Anaknya? Tentu mereka menantikan kepulangannya setiap hari kan? Dengan harap tentunya. Ahh… kenapa tidak bekerja yang lain saja? Pikirku. Tapi kerja apa? Semua orang butuh pekerjaan, dan peluang dipekerjakan dengan selayaknya manusia bukanlah perihal gampang. Menciptakan pekerjaan sendiri juga tidak mudah. Karena memang tidak ada yang gampang di dunia ini selagi kita memiliki keinginan positif untuk lebih baik.
Bukannya pekerjaan menjadi tukang sol sepatu itu adalah pekerjaan rendahan. Bukan begitu. Justru penghasilan yang datang dari cara yang tidak baik lah yang rendah. Tapi aku cuma merasa seharusnya ia punya sedikit saja kreatifitas dan berinovasi atau mungkin pindah jalur profesi. Karena orang yang menang itu adalah orang yang responsif dengan perubahan, dan memanfaatkan peluang. Itu cuma teori anak muda! Karena kau masih hidup senang dengan pemenuhan yang diberikan orang tuamu! Mungkin itulah jawaban untuk teori sotoi itu. Yah.. kembali lagi ke yang tadi itu. Memang tidak gampang. Tapi bukan berarti tidak bisa kan? Aku bercerita begini bukan berarti bergelimang harta dan hidup berfoya-foya sehingga bisa melemparkan segepok uang ke orang-orang yang kuinginkan. Hidupku biasa saja, dan aku bahagia menjadi orang yang bersyukur. Kuliahku yang mahal itu saja dibayar pakai uang beasiswa. Banyak, sangat banyak yang wajib kusyukuri
Aku cuma terkenang dengan cerita kakakku.

Untuk berfoto dengan orang ini, kita harus merogoh kocek antara dua sampai enam Euro. Sama dengan harga makan nasi pakai tumis kangkung dan bisa dua kali makan burger atau fastfood sejenisnya. Kalau di Indonesia, dua kali berfoto dengan orang ini, aku sudah bisa beli kalkulator scientific baru. Bisa makan burger sepuluh atau mungkin 12 kali. Sekali foto. Sehari bisa berpuluh sampai beratus orang yang mau berpoto bersama. Dan apresiasi publik terhadap profesi ini sangat baik. mereka dihargai tanpa dipandang rendah sedikitpun. Mereka adalah seniman. Sama saja dengan menonton pertunjukan. Dan bernostalgialah sedikit dengan serial laskar pelangi Anda. Saat berkeliling Eropa bisa dilakukan hanya dengan menjadi seniman jalanan.
Lalu seniman jalanan kita? Berpenampilan segini wah namanya selebritis kalau di kita. Ya, standar kita memang berbeda dengan mereka. Hmm… Kreasi dan inovasi.
Satu orang lagi melintas. Biasa saja, tidak menor tapi agak mencolok. Memikul dua kotak yang berada di kedua ujung kayu yang dihubungkan dengan kayu melengkung di pundaknya. Tukang sol sepatu. Aku ikuti sosoknya sampai tak terlihat. Banyak yang terpikir olehku. Sejak jam berapa ia menjajakan jasanya setiap hari? Berapa penghasilannya? Sebandingkah dengan langkahnya menghitung ruas jalan sampai entah kapan akan dipanggil orang? Berapa cepat sepatunya sendiri habis bergesekan dengan aspal dan bebatuan kering? Di zaman seperti ini, masih ada tukang sol sepatu saudaraku. Disaat orang sudah dengan gampang menyemir sepatunya sendiri. Membiarkan sepatu yang cacat sedikit terpuruk di rak sepatu untuk dimuseumkan saat nanti-nanti teringat.
Aku sedih melihatnya. Adakah istrinya? Anaknya? Tentu mereka menantikan kepulangannya setiap hari kan? Dengan harap tentunya. Ahh… kenapa tidak bekerja yang lain saja? Pikirku. Tapi kerja apa? Semua orang butuh pekerjaan, dan peluang dipekerjakan dengan selayaknya manusia bukanlah perihal gampang. Menciptakan pekerjaan sendiri juga tidak mudah. Karena memang tidak ada yang gampang di dunia ini selagi kita memiliki keinginan positif untuk lebih baik.
Bukannya pekerjaan menjadi tukang sol sepatu itu adalah pekerjaan rendahan. Bukan begitu. Justru penghasilan yang datang dari cara yang tidak baik lah yang rendah. Tapi aku cuma merasa seharusnya ia punya sedikit saja kreatifitas dan berinovasi atau mungkin pindah jalur profesi. Karena orang yang menang itu adalah orang yang responsif dengan perubahan, dan memanfaatkan peluang. Itu cuma teori anak muda! Karena kau masih hidup senang dengan pemenuhan yang diberikan orang tuamu! Mungkin itulah jawaban untuk teori sotoi itu. Yah.. kembali lagi ke yang tadi itu. Memang tidak gampang. Tapi bukan berarti tidak bisa kan? Aku bercerita begini bukan berarti bergelimang harta dan hidup berfoya-foya sehingga bisa melemparkan segepok uang ke orang-orang yang kuinginkan. Hidupku biasa saja, dan aku bahagia menjadi orang yang bersyukur. Kuliahku yang mahal itu saja dibayar pakai uang beasiswa. Banyak, sangat banyak yang wajib kusyukuri
Aku cuma terkenang dengan cerita kakakku.

Untuk berfoto dengan orang ini, kita harus merogoh kocek antara dua sampai enam Euro. Sama dengan harga makan nasi pakai tumis kangkung dan bisa dua kali makan burger atau fastfood sejenisnya. Kalau di Indonesia, dua kali berfoto dengan orang ini, aku sudah bisa beli kalkulator scientific baru. Bisa makan burger sepuluh atau mungkin 12 kali. Sekali foto. Sehari bisa berpuluh sampai beratus orang yang mau berpoto bersama. Dan apresiasi publik terhadap profesi ini sangat baik. mereka dihargai tanpa dipandang rendah sedikitpun. Mereka adalah seniman. Sama saja dengan menonton pertunjukan. Dan bernostalgialah sedikit dengan serial laskar pelangi Anda. Saat berkeliling Eropa bisa dilakukan hanya dengan menjadi seniman jalanan.
Lalu seniman jalanan kita? Berpenampilan segini wah namanya selebritis kalau di kita. Ya, standar kita memang berbeda dengan mereka. Hmm… Kreasi dan inovasi.
Komentar