Cerita Kesekian Tentang Lampu Merah
Ini murni cerita tentang pengalaman saia saja. Saia luangkan waktu di sela-sela mengerjakan laporan Hidrolika. Karena laporan Mekanika Tanah saia sudah resmi Alhamdulillah diberikan Allah kemudahan untuk menyelesaikannya sekalipun dengan sekian juta sakit hati dan caci maki dalam hati. Sehingga apa? Insya Allah laporan itu membuat saia bias ikut UAS semester ini dan dengan begitu saia punya kesempatan lebih besar untuk bisa ambil kelas MekTan II dan semoga bisa lanjut ke Pondasi dan subject-subject lain yang terkait nanti, kalau saia masih hidup dan bertahan di teknik sipil ini.
Oke, prolog melenceng. Meleset. Tadi rencananya tidak ingin menyangkut sedikitpun tentang perkuliahan saia. Tapi apalah daya. Terimalah takdir anda telah sampai kesini, dan mungkin mood anda berubah jadi rusak setelah singgah plus baca. Kasian ya? Hahaha… maapin saia. Dan segala kalimat-kalimat tak senonoh saia. Saia memaksakan diri untuk menutup tahun ini dengan sedikit cerita karena arsip tahun ini sedikit sekali. Yahh.. saia Cuma mampu segini ternyata :D
Seperti biasa. Saia ini tipe yang lambat panas. Kalau mau ngerjain laporan udah siap-siapin semua kertas-kertas sama kalkulator sejak jam delapan, maka jam sepuluh barulah laporan bisa tersentuh. Ampunilah saia ya Allah. Dosa apa yang membuat saia menjadi sangat-sangat beraliran sesat begini? Di saat-saat Hidrolika dikumpul dua hari lagi. Dan dua bab laporan saia belum OK. Hahaha…
Nah lihat kan? Saia memang tidak bisa sehari saja melupakan pernak-pernik perkuliahan itu. Meracun di dedarah dan belulang.
Seakan-akan penting, maka cerita ini saia mulai. Dari kalimat pertama di paragrap pertama, maka langsunglah melanjutkan membaca ke kalimat setelah ini agar anda tidak ikut sakit sarap. Atau langsung membaca paragraph dibawah dengan mengabaikan semua paragraph sebelumnya juga boleh.
Di setiap perjalanan, kemana saja, selalu ada banyak imajinasi yang berseliweran, kata-kata yang terangkai hebat namun hilang saat bertemu kertas dan pena atau keyboard. Maka saia benar-benar menginginkan benda yang bisa menuliskan apa yang sedang saia pikirkan. Ya paling tidak seperti si wartawan menyebalkan, si Rita yang di Harry Potter itu, yang penanya bisa nulis, bisa diperintah untuk nyoret juga. Memang manusia. Selalu ingin mudah. Tapi bener kan? Terlalu banyak yang ingin dituliskan atau dituangkan saat tidak bisa, tapi menjadi terlalu sedikit saat sikon mengatakan bisa dan ada masa. Lagi-lagi saia manusia. Yang bisanya mengeluh dan menyalahkan. Saia.
Saia diingatkan oleh penjaja Koran di lampu merah simpang empat Arengka saat berangkat kuliah tentang memori beberapa masa lalu. Juga tentang suasana lampu merah.
Maka kejadian kali ini terjadi di Jakarta.
Saat itu jalanan sedang macet. Yah seperti Jakarta yang biasanya. Dan saat itu saia sedang bad mood parah. Macet ini saja cukup untuk membuat saia tidak begitu suka dengan Jakarta.
Berjam-jam di jalan dengan jarak yang ingin ditempuh hanya sepuluh kilo. AC terlalu dingin tapi saia berkeringat. Sakit perut. Bete lah pokoknya. Tambah lagi saia belum solat ashar dan waktu itu sudah hampir maghrib. Naïf berpikir kalau masih sempat solat di rumah karena tidak nyaman solat di tempat umum ( Baca: pengen mandi dulu). Dan saia terperangkap terlalu lama di jalan. Parah hebat.
Tiba-tiba apa? Ada yang dengan nyebelinnyanempel-nempel bergerak ngikut-ngikutin taksi yang saia naiki beringsut per sekian senti ini. Persis di kaca sebelah saia.
“tan, kasian tan.. belum makan tan.. seribuuuu aja tan.. tan.. tan.. tan.. bla bla bla..” waktu itu kebayang donk apa yang ingin saia lakukan? Bukan. Bukan pengen keluar dari taksi trus ngajak dia ke trotoar buat ngajak duel. Bukan. Anda terlalu jelek menilai saia. Atau terlalu tinggi menilai saia mengira saia sudah fasih mengucapkan mantra ridicoulous? Saia cuma pengen sakit perut ilang. Mood berubah. Trus dengan mudah ngasi seribu. Trus dia pergi. Tapi tau donk.. saia lagi bad mood parah gitu. Jadi cerita punya cerita saia pun tak lagi memedulikan dia yang terus berbunyi di kaca memandang saia. Saia pun sudah sejak tadi mengangkat kedua kaki, memeluknya, plus meringis, bergaya ala orang meratap kehilangan laki. Duduk pun tak lagi tegak dan terus beringsut turun.
Abang saia yang bergender pria*ya iyyalaaah* yang kata orang tidak mau repot menggunakan perasaan melebihi wanita mulai tersentak. Tersentuh? Atau terganggu? Tersentuh sodara-sodara. Abang saia tipe pria baik. Abang saia nyuruh saia ngasi adik itu duit. Saia pun dengan malas bergerak mencari duit di dalam tas dengan satu tangan masih mendekap kedua kaki. Dan membuka sedikit kaca. Mengulurkan seribu. Lantas si adik mengucapkan terimakasih.pernah dengar kiasan beribu terimakasih? Ya mungkin begitulah yang paraboliknya. Dia mengucapkan terimakasih berulang-ulang sambil menunduk. Kesannya hormat gimana gitu. Hei nak, saia cuma kasi seribuu.. dan saia bukan orang tuamu. Berbicara dengan presiden sekalipun tak perlu kamu menunduk-nunduk begitu.
“makasi ya tan.. makasi.. makasi.. makasi” makasi seribu kali. Atau kalau saia tidak salah ingat dia mungkin juga mengucapkan “tante baik deh”. Entahlah.
Ahhh.. saia ingat bange dia manggil saia dengan sebutan tante begitu. Ga kok, saia ga marah sama sekali. Saia mengerti itu salah satu bentuk kesopanan. Saia terenyuh. Terenyuh? Bukan. Saia MALU .Malu pada diri yang tidak ada beda dengannya tapi sombong dengan membawa suatu kepastian, kepastian akan ketiadaan yang pasti ada pada diri saia.
Oke, prolog melenceng. Meleset. Tadi rencananya tidak ingin menyangkut sedikitpun tentang perkuliahan saia. Tapi apalah daya. Terimalah takdir anda telah sampai kesini, dan mungkin mood anda berubah jadi rusak setelah singgah plus baca. Kasian ya? Hahaha… maapin saia. Dan segala kalimat-kalimat tak senonoh saia. Saia memaksakan diri untuk menutup tahun ini dengan sedikit cerita karena arsip tahun ini sedikit sekali. Yahh.. saia Cuma mampu segini ternyata :D
Seperti biasa. Saia ini tipe yang lambat panas. Kalau mau ngerjain laporan udah siap-siapin semua kertas-kertas sama kalkulator sejak jam delapan, maka jam sepuluh barulah laporan bisa tersentuh. Ampunilah saia ya Allah. Dosa apa yang membuat saia menjadi sangat-sangat beraliran sesat begini? Di saat-saat Hidrolika dikumpul dua hari lagi. Dan dua bab laporan saia belum OK. Hahaha…
Nah lihat kan? Saia memang tidak bisa sehari saja melupakan pernak-pernik perkuliahan itu. Meracun di dedarah dan belulang.
Seakan-akan penting, maka cerita ini saia mulai. Dari kalimat pertama di paragrap pertama, maka langsunglah melanjutkan membaca ke kalimat setelah ini agar anda tidak ikut sakit sarap. Atau langsung membaca paragraph dibawah dengan mengabaikan semua paragraph sebelumnya juga boleh.
Di setiap perjalanan, kemana saja, selalu ada banyak imajinasi yang berseliweran, kata-kata yang terangkai hebat namun hilang saat bertemu kertas dan pena atau keyboard. Maka saia benar-benar menginginkan benda yang bisa menuliskan apa yang sedang saia pikirkan. Ya paling tidak seperti si wartawan menyebalkan, si Rita yang di Harry Potter itu, yang penanya bisa nulis, bisa diperintah untuk nyoret juga. Memang manusia. Selalu ingin mudah. Tapi bener kan? Terlalu banyak yang ingin dituliskan atau dituangkan saat tidak bisa, tapi menjadi terlalu sedikit saat sikon mengatakan bisa dan ada masa. Lagi-lagi saia manusia. Yang bisanya mengeluh dan menyalahkan. Saia.
Saia diingatkan oleh penjaja Koran di lampu merah simpang empat Arengka saat berangkat kuliah tentang memori beberapa masa lalu. Juga tentang suasana lampu merah.
Maka kejadian kali ini terjadi di Jakarta.
Saat itu jalanan sedang macet. Yah seperti Jakarta yang biasanya. Dan saat itu saia sedang bad mood parah. Macet ini saja cukup untuk membuat saia tidak begitu suka dengan Jakarta.
Berjam-jam di jalan dengan jarak yang ingin ditempuh hanya sepuluh kilo. AC terlalu dingin tapi saia berkeringat. Sakit perut. Bete lah pokoknya. Tambah lagi saia belum solat ashar dan waktu itu sudah hampir maghrib. Naïf berpikir kalau masih sempat solat di rumah karena tidak nyaman solat di tempat umum ( Baca: pengen mandi dulu). Dan saia terperangkap terlalu lama di jalan. Parah hebat.
Tiba-tiba apa? Ada yang dengan nyebelinnya
“tan, kasian tan.. belum makan tan.. seribuuuu aja tan.. tan.. tan.. tan.. bla bla bla..” waktu itu kebayang donk apa yang ingin saia lakukan? Bukan. Bukan pengen keluar dari taksi trus ngajak dia ke trotoar buat ngajak duel. Bukan. Anda terlalu jelek menilai saia. Atau terlalu tinggi menilai saia mengira saia sudah fasih mengucapkan mantra ridicoulous? Saia cuma pengen sakit perut ilang. Mood berubah. Trus dengan mudah ngasi seribu. Trus dia pergi. Tapi tau donk.. saia lagi bad mood parah gitu. Jadi cerita punya cerita saia pun tak lagi memedulikan dia yang terus berbunyi di kaca memandang saia. Saia pun sudah sejak tadi mengangkat kedua kaki, memeluknya, plus meringis, bergaya ala orang meratap kehilangan laki. Duduk pun tak lagi tegak dan terus beringsut turun.
Abang saia yang bergender pria*ya iyyalaaah* yang kata orang tidak mau repot menggunakan perasaan melebihi wanita mulai tersentak. Tersentuh? Atau terganggu? Tersentuh sodara-sodara. Abang saia tipe pria baik. Abang saia nyuruh saia ngasi adik itu duit. Saia pun dengan malas bergerak mencari duit di dalam tas dengan satu tangan masih mendekap kedua kaki. Dan membuka sedikit kaca. Mengulurkan seribu. Lantas si adik mengucapkan terimakasih.pernah dengar kiasan beribu terimakasih? Ya mungkin begitulah yang paraboliknya. Dia mengucapkan terimakasih berulang-ulang sambil menunduk. Kesannya hormat gimana gitu. Hei nak, saia cuma kasi seribuu.. dan saia bukan orang tuamu. Berbicara dengan presiden sekalipun tak perlu kamu menunduk-nunduk begitu.
“makasi ya tan.. makasi.. makasi.. makasi” makasi seribu kali. Atau kalau saia tidak salah ingat dia mungkin juga mengucapkan “tante baik deh”. Entahlah.
Ahhh.. saia ingat bange dia manggil saia dengan sebutan tante begitu. Ga kok, saia ga marah sama sekali. Saia mengerti itu salah satu bentuk kesopanan. Saia terenyuh. Terenyuh? Bukan. Saia MALU .Malu pada diri yang tidak ada beda dengannya tapi sombong dengan membawa suatu kepastian, kepastian akan ketiadaan yang pasti ada pada diri saia.
Komentar
often feel the same .
see , we usually get lessons from poor .