kalau saia gila
Kalau listrik mati agak lama, nasi di ricewarmer pun jadi berkeringat. Ujungnya jadi basi. Dan bernasib tragis di tong sampah.
Saia jadi teringat sesuatu. Tentang mereka yang biasa kita lihat di jalanan. Yang tidak lengkap pakaiannya. Yang tidak jelas tujuan jalannya. Yang tidak pasti berbicara dengan siapa. Kita-kita menyebut mereka orang gila.
Pernah ga sih, liat mereka makan?
Saia pernah. Melihat mereka mengaduk-aduk isi tong sampah. Dan memakan apa saja yang mereka anggap makanan pada saat itu juga. Saat berdiri di tempat yang tidak kita sukai itu. Saat mengobrak-abrik isi tong sampah itu. Mengaduk tong sampah dan memakan apa yang ditemukan dengan tangan yang sama. Iya, mereka mana sempat bersendok ria atau cuci tangan segala. Tak terpikirkan lagi, mungkin.
Miris sekali hati ini...
Jadi terpikir, kenapa tidak membuang makanan yang masih bagus saja. Supaya mereka tidak makan makanan kotor dan tidak jelas begitu. Tapi mubazir kan dilarang. Dosa.
Trus kalo mau ngasi mereka makanan, kemana? Mereka hidup nomaden di zaman milenium begini. Tidur dimana mata terkantuk.
Saia sedih...
Sempat terlintas bagaimana kalau saia gila. Saia makan apa.. iya, yang terpikirkan ya jelas makan. Karena makan ini mendesak siapa saja. Sekalipun orang gila. Jelas saia tidak akan memikirkan berpakaian seperti apa bahkan jilbaban segala. Apa saia juga menjalankan aktifitas makan seperti mereka???
Saia bersyukur...
Entah, entah sopan atau tidak. Bersyukur diatas kepedihan hidup orang lain.
Tuhan, maafkan saia...
Saia jadi teringat sesuatu. Tentang mereka yang biasa kita lihat di jalanan. Yang tidak lengkap pakaiannya. Yang tidak jelas tujuan jalannya. Yang tidak pasti berbicara dengan siapa. Kita-kita menyebut mereka orang gila.
Pernah ga sih, liat mereka makan?
Saia pernah. Melihat mereka mengaduk-aduk isi tong sampah. Dan memakan apa saja yang mereka anggap makanan pada saat itu juga. Saat berdiri di tempat yang tidak kita sukai itu. Saat mengobrak-abrik isi tong sampah itu. Mengaduk tong sampah dan memakan apa yang ditemukan dengan tangan yang sama. Iya, mereka mana sempat bersendok ria atau cuci tangan segala. Tak terpikirkan lagi, mungkin.
Miris sekali hati ini...
Jadi terpikir, kenapa tidak membuang makanan yang masih bagus saja. Supaya mereka tidak makan makanan kotor dan tidak jelas begitu. Tapi mubazir kan dilarang. Dosa.
Trus kalo mau ngasi mereka makanan, kemana? Mereka hidup nomaden di zaman milenium begini. Tidur dimana mata terkantuk.
Saia sedih...
Sempat terlintas bagaimana kalau saia gila. Saia makan apa.. iya, yang terpikirkan ya jelas makan. Karena makan ini mendesak siapa saja. Sekalipun orang gila. Jelas saia tidak akan memikirkan berpakaian seperti apa bahkan jilbaban segala. Apa saia juga menjalankan aktifitas makan seperti mereka???
Saia bersyukur...
Entah, entah sopan atau tidak. Bersyukur diatas kepedihan hidup orang lain.
Tuhan, maafkan saia...
Komentar
dalam jargon melayu dikenal dengan "untung"
untung dikau tak mati
untung dikau tak kelaparan
untung cuma lecet sedikit
untung cuma kena amarah aja drpd dipecat
dll d
kemane aje neh? ilang ga tentu arah