betapa indonesia tidak melayu

Betapa Indonesia Tidak Melayu

Yah, ini cerita lama. Tapi terkuak kembali dari ingatanku. Tentang betapa suku Melayu terpinggirkan di negeri ini, entah itu hanya perasaanku saja...

Waktu aku sedang belanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, aku dikirain turis mancanegara cuma karena aku ngomong pakai Bahasa Melayu. Tidak dengan penjualnya, tapi dengan abangku sendiri, yang jelas si penjual mendengarnya. Ya iyalah, sejak lahir aku lebih dulu kenal Bahasa Melayu daripada Bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Hari-hariku di rumah dipenuhi dengan hiruk pikuk bahasa itu. Dan tidak mungkin saja rasanya kalau aku tiba-tiba ngomong pake Bahasa Indonesia yang baik dan benar sama abangku. Mungkin sih, tapi helooooo... 18 tahun hidupku sudah terlanjur tidak menggunakan Bahasa Indonesia di rumah, dengan anggota keluargaku.

”dari mana mbak?” kata si penjual.
”pulau seberang”
”oooohhh,,, pantes, bahasanya beda..”
Heh??? Wedew, maksud lo??? Pulau seberang yang kumaksud adalah Sumatera. Yayaya, mungkin aku yang salah ngomong..
”bukan mas, kita dari seberangnya Malaysia, kita dari Riau”
Aku ngomong full Indonesia sama si penjual, sedikitpun tidak ada aksen Melayu.
”kalo gitu boleh lah mbak, bagi kite duitnye.. kenang-kenangan..”
Hayaaaahhh, si penjual ini ngotot banget sih. Pake ngomong di Melayu-Melayu-in segala, mana aneh lagi kedengarannya. Berkali-kali aku bilang sama yang jual, kita bukan turis. Ehh, dia maksa.. cape de..
Kayaknya abangku juga cape sama si penjual.
”udah ki, kasi aja” kata abangku, maksudnya, kasi aja Ringgitnya. Di dompetku ada banyak memang..
Ya udahlah.. aku kasi ke si penjual satu lembar saja Ringgit ku. Satu atau sepuluh ringgit aku lupa. Trus si penjual hepi-hepi ga jelas gitu.. hepi kalo ternyata tokonya dikunjungi turis dari negara sendiri..

Yayaya... bukti satu jelas sudah. Bahasa Melayu lebih identik dengan negeri seberang sana.

Bukti dua. Ada yang udah liat iklan Partai Kita Semua? Kalo aku ga salah, modelnya nyebutin beberapa suku di Indonesia, yang maksudnya, apapun sukunya partainya tetap, Partai Kita Semua*halah, jadi kaya promosi gini..*. nah, kuperhatikan beberapa kali iklan itu lewat untuk memastikan. Dan memang jelas sudah, si model ga nyebutin Melayu tuh. Tapi aku ga berkecil hati, toh kalau disebutin semua suku yang ada di Indonesia tarif iklannya jadi mahal kan..

Cuma ini jadi bukti kedua, betapa tidak eksisnya Suku Melayu di negeri ini.

Ketiga. Aku pernah baca postingan Ai di blogger. Temannya nanyain, bahasa Pekanbaru kayak gimana. Nah, si Ai bingung tanggung deh. Bahasa Pekanbaru gimana ya.... aku juga bingung menanggapi postingan Ai. Secara Ai tidak bisa Bahasa Melayu. Dan apakah teman-teman ingat dengan pelajaran Sejarah jaman SD dulu? Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu.

Jadi, dengan berbahasa Indonesia, kita sudah berbahasa Melayu. Haha, ini cuma teoriku saja, nyontek teorinya nara sumber pas acara seminar Budaya Melayu kelas 3 SMA dulu.


Kalo kamu berkunjung ke Pekanbaru, memang bahasa Melayu jarang terdengar. Karena simpul-simpul kegiatan diluar instansi pemerintah dipegang oleh suku lain. Tapi, kalau kamu kuliah di Universitas di seputaran Riau, mungkin kamu baru ngerasa kalo ternyata Riau memang Melayu. Di kampus aja sampai-sampai di tulis ”kawasan wajib berbahasa Indonesia”. Aku mau ketawa aja kalo baca tulisan ini. Asal muasal tulisan itu terpampang di kampus adalah, anak-anak daerah yang dari luar Pekanbaru ngomong Melayu full. Sama dosen sekalipun. Di luar atau di kelas sekalipun. Ga peduli lawan bicaranya ngomong pake bahasa apa.

Di instansi pemerintah pun, Bahasa Indonesia tenggelam karena Bahasa Melayu. Dan maaf, buka-bukaan saja. Kebanyakan pegawai pemerintah di Riau adalah orang Riau asli. Mulai dari dirinya, sampai orang tuanya. Karena sudah jadi rahasia umum, masing-masing daerah jelas memprioritaskan putra putri daerah. Kalau suku selain Melayu, maaf, biasanya jadi guru, pegawai swasta, atau profesi lainnya. Tapi tidak bisa dikesampingkan juga, kalau profesi guru lebih dominan dari suku Melayu.

Maaf lagi, warga beragama selain Islam, juga terkesampingkan. Maaf lagi, hal sebaliknya juga terjadi di beberapa daerah yang dominan tidak Islam kan...

Ah, jadi ngelantur deh..
Btw, ini tentang Melayu, Indonesia, atau Riau ya.. aku juga bingung. Nyampur aduk! Wahaha…

Komentar

Anonim mengatakan…
Hehehe, anak SMA 8 ya :). hehehe, sama donk. Aku juga alumni sana.


Hmm, menarik sekali nih topiknya, tapi perlu digarisbawahi juga. Tidak salah kok kalau memprioritaskan orang Melayu dalam penerimaan PNS di Riau. Lah, di daerah lain juga seperti itu kok. DI ACeh, di Sumbar, di SUmsel, di Jogja, di Jawa, di Bali, di Makassar, di Manado. Dianggap wajar saja, nanti sakit hati. hehehe


Hal ini terjadi karena keterbukaan orang Melayu nya juga sebenarnya. Dan ada campur tangan rezim orde baru dalam mengenepikan orang Melayu di RIau.

DUlu, itu ibaratnya Orang Riau kalau mau sukses, bakal susah kalau merintis karier di Riau. Bahkan label kuatnya, orang Riau yang sukses rata2 suksesnya di Luar Riau, di Jakarta, di Malaysia, di Medan atau di luar RIau lah pokoknya. Sekitar 9 bersaudara abang2 ayahku yang kebetulan asli melayu Riau. SEMUA DARI MEREKA merintis karier dari luar RIau. Kurasa hal itu wajar dan banyak terjadi di keluarga2 asli RIau lainnya.

Baru setelah era Otonomi Daerah, mereka berbondong-bondong kembali ke Riau. Padahal dulu mereka dipersulit di sini. Dulu sebelum era OTDA, Gubernur Riau saja sebagian besar bukan ASLI RIAU. Hehehe, kejadian ini semua bukan kehendak orang Melayu Riau kok. Tapi memang terancang sama pemerintah di masa lalu :).

Sekarang, ya berhubung zaman itu sudah lewat sekitar 10 tahun. Ya, sekarang waktunya kita Kerja Keras. Dan meyakinkan Putra/Putri Jati Riau untuk kembali memajukan Riau. :) ...

Amin.
Anonim mengatakan…
saya setuju dengan anda QQ..
betapa melayu indonesia telah pergi jauh..bahasa indonesia pun dikatakan bahasa melayu,tetapi melayu yang macam mana?dahulu bahasa melayu malaysia sama dengan bahasa melayu indonesia,tetapi sekarang sudah jauh berbeza sekali..
saya sebagai rakyat malaysia,melihat orang indonesia terpaksa belajar bahasa indonesia yang berasal dari bahasa jawa kerana pemerintah pun dari kalangan orang jawa..
jadi nak taknak terpaksa juga..
ucu atan mengatakan…
nak base melayu
mari kat sini

Postingan populer dari blog ini

Ada yang Mau Ngucapin Tahniah*???

Bukankah Kita Bersaudara?

Jamuan Tamu