Operet Malam
Telah kutitipkan pada malam-malam sekumpulan cerita tiada akhir yang akan kusambung lagi esok dan esoknya lagi yang telah dirangkum bulan dalam buku-buku tebal dan tak pula ringan. Kubiarkan ia bercerita pada gemintang hingga angkasa ikut menjadi panggungnya. Burung hantu itu hanya menyempurnakan opera cerita dengan bertenggernya ia pada panggung lain yang diarahkan bulan yang memakai kacamatanya. Ia dengan tongkatnya tak henti-henti mengucapkan “wingardium leviosa” agar suasana operet ini menjadi seperti cerita yang telah dirangkum dalam buku tebal di tangannya saat kutanyakan ada cerita apa di halaman tujuh puluh dua.
Kunang-kunang yang berkeliaran dalam formasi tak tentu sesuka hati membuat iri kaki yang tak kuasa berdiri dan takut lari dari mimpi yang tak henti tawarkan semerbak melati namun tangkainya adalah belati. Dengan apa akan kugenggam ia bila mata belatinya menghadap pada jemari yang baru keluar dari persembunyian dan belum menutup lukanya sempurna, akan berbekas sejatinya. Bilamana kugenggam bertambah ia dengan luka yang mungkin saja akan lebih dalam bekasnya. Seakan ku terlupa masih ku punya genggaman dari jemari lainnya, lalu luka lama habis dikikis masa. hingga berkata bulan…
“belati manapun di dunia tetaplah punya dua sisi yang satunya tidak mematikan”
Kunang-kunang yang berkeliaran dalam formasi tak tentu sesuka hati membuat iri kaki yang tak kuasa berdiri dan takut lari dari mimpi yang tak henti tawarkan semerbak melati namun tangkainya adalah belati. Dengan apa akan kugenggam ia bila mata belatinya menghadap pada jemari yang baru keluar dari persembunyian dan belum menutup lukanya sempurna, akan berbekas sejatinya. Bilamana kugenggam bertambah ia dengan luka yang mungkin saja akan lebih dalam bekasnya. Seakan ku terlupa masih ku punya genggaman dari jemari lainnya, lalu luka lama habis dikikis masa. hingga berkata bulan…
“belati manapun di dunia tetaplah punya dua sisi yang satunya tidak mematikan”
Komentar