Selalu Saja Ada yang Bisa Mengingatkanmu Akan Rumah

Salah satu dari hari Jumat di bulan Maret lalu, saya dan teman-teman satu apartemen memutuskan untuk pergi hedon sepulang kerja. Di balik sebutannya yang frontal, sebenarnya kami melakukan kegiatan yang sangat classy. Lima hari kerja penuh dari pagi sampai matahari terbenam, kami ingin sedikit refreshing.

Maka kami memutuskan untuk ke Lippo Kramatjati untuk makan malam weekend ini. Sebagai pendatang di Jakarta, kami yang berjumlah enam orang pun layaknya orang tersesat kebanyakan, mengikuti arahan google map dan waze serta arahan dari orang-orang yang terpercaya seperti penjaga swalayan (lho?)

Di Jakarta, jalan kaki berkilo-kilometer adalah hal biasa, karena ada banyak sekali orang yang juga jalan kaki. Pulang kantor dengan seragam lengkap, Kami pun bercucuran keringat karena terlanjur percaya dengan instruksi seorang ibu di dalam angkot yang kami percayai. Jadi ukuran jauh-dekatnya tujuan di Jakarta tidak bisa disamakan dengan kota lainnya. Kukira kami berjalan lebih dari dua kilometer setelah turun dari angkot untuk mencapai Lippo Kramatjati tersayang itu.

Menghabiskan satu setengah jam untuk mencapai tujuan sejauh 20 kilometer itu buatku adalah seusatu yang menakjubkan. Amazing Jakarta!

Dan sungguh, kami hanya makan malam dan sedikit window shopping lalu pulang. Ternyata di luar hujan dan kami terjebak di dalam angkot hingga tengah malam! Dari jam sembilan keluar mall, kami sampai kembali di apartemen setengah jam sebelum tengah malam. Luar biasa. Banyak jalanan yang ditutup karena muka air sangat tinggi dan kami harus rela dibawa angkot mutar-mutar demi menghindari jalanan yang ditutup-tutup itu.

Namun ada yang membuatku nyesss di mall saat Shalat Maghrib.



Bocah ini kukira usianya empat tahun dan sangat mengingatkanku akan rumah. Segala hal yang terjadi saat kamu berada jauh dari rumah selalu saja bisa nyerempet ke hal-hal yang bisa mengingatkanmu akan rumah.

Bocah ini menyuarakan bacaan Alfatihah Shalat Maghribnya. Dan sepanjang shalatnya dia hanya membaca Alfatihah dan bacaan Takbir juga i'tidal. Dengan keterbatasan kemampuan hafalannya, dia tetap shalat pada waktunya, tidak lalai seperti kita orang dewasa, dan telah membuat semua orang di dalam Mushalla luluh. Ternyata mengharukan, mendengar bocah membaca bacaan shalatnya.

Dan bocah ini mengingatkanku akan puluhan (udah tua, hiks) tahun silam. Saat aku seusianya. Berada di shaf belakang jamaah perempuan, Selalu sendiri di shaf paling belakang. Ikut membaca bacaan imam di depan dengan suara keras seperti imam. Dan imam di depan pun selalu membaca ayat pendek yang mudah agar bocah itu bisa mengikuti setiap bacaan saat berdiri.
Dan imam itu adalah Ayah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukankah Kita Bersaudara?

Ada yang Mau Ngucapin Tahniah*???

Jamuan Tamu