Telat Lagi
Chapter 2
Setelah hari pertama aku telat masuk sekolah, aku berkemas lebih sigap. bangun lebih awal. sarapan dengan kecepatan cahaya. pake sepatu di perjalanan. beresin jilbab sambil lari-lari. dan segala macam rutinitas pagi yang memuakkan. yang harus selalu seperti itu. tidak ada perubahan.
Dan semua itu, kulakukan masih dalam rangka menyelamatkan diri dari "listrik mati" yang dengan sukses mengubah hari-hariku.
dalam gelap-gelap itu, aku gak bisa ngomelin emakku yang gak pernah absen nonton sinetron lagi.
jadi sepi.
mau denger lagu, kompie dan laptop bernasib naas.
mau ngerjain tugas, boro-boro.
mau nge-sms tem-tem(akhirnya aku ngerasa butuh sama hp ku), udah keduluan mati.
mau buat pr, besok-besok deh.
mau beres-beres ke sekolah aja, sekian banyak rintangan.
kran air gak mau kompromi.
lampu rumah yang terpaksa digantikan dengan lilin temaram di subuh hari. benar-benar dramatis-tis.
mau sarapan, gak ada nasi. eh, emakku udah antisipasi yg ini.
mau minum susu? mimpi kali! dispenser KO.
abis makan, mau cuci tangan,, timba air duluuuu...
tapi, setelah experience hari pertama kemarin, aku bisa selesai berkemas pagi tepat waktu. tinggal berangkat aja.
tiba-tiba...
"huk huk"
motor abangku batuk-batuk.
ada apa ini?!!!
belum cukupkah semua yang telah terjadi???
"huk-huk"
masih batuk-batuk. aku ngeluarin hp-ku. mau liat udah jam berapa. ups,, hp kan mati. dodolnya...
"huk-huk"
batuk lagi.
"jam tujuh lewat delapan ki....."
emakku dari rumah teriak.
Allahuakbar. bismillahirrhmanirrahim. alhamdulillahirabbil 'alamin..... aku sedang berusaha mengurangi peluang penyakit gila nomor tujuhku keluar. tiba-tiba saja membacakan segala bacaan dalam sholat.
yak! batuknya udah selesai. dengan senyum mengembang pasrah, aku berangkat sekolah. sebenarnya ini semua sia-sia belaka. aku tau itu. tapi, kali aja pak edy lupa nutup pagar. usaha dulu.
sampai di sekolah. pagar samping tepatnya..
"pagar depan, bang"
abangku dengan semangat bermilyar ton, kecepatan 1000 kali kecepatan cahaya, mulai membawaku ke pagar depan. gak perlu lagi, bang. biasa aja deh!
gak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu sendiri. ya, pagar sudah tutup hari ini.
hari kedua, semester enam. berturut-turut setelah hari pertama.
akhirnya, aku kirim surat sakit yang ditandatangani panglima datuk sri maharaj [ mon pere ] ke sekolah. saya sakit, bu guru....
aku malas menceritakan yang tidak indah-indah seperti ini.
cuma bikin aku tambah lemah.
padahal kan aku lagi membutuhkan semangat. semangat setinggi bintang. yang walaupun kecil, namun sangat tinggi. tak perlu dipoles dengan tampilan luar seindah mungkin, ia sudah benar-benar indah. tak perlu diperlihatkan kekuasaan dan keangkuhan yang besar, karena dalam setitiknya itu sesungguhnya ia besar.
tuh kan, aku mulai lagi, penyakit gila nomor sembilan nih.
Setelah hari pertama aku telat masuk sekolah, aku berkemas lebih sigap. bangun lebih awal. sarapan dengan kecepatan cahaya. pake sepatu di perjalanan. beresin jilbab sambil lari-lari. dan segala macam rutinitas pagi yang memuakkan. yang harus selalu seperti itu. tidak ada perubahan.
Dan semua itu, kulakukan masih dalam rangka menyelamatkan diri dari "listrik mati" yang dengan sukses mengubah hari-hariku.
dalam gelap-gelap itu, aku gak bisa ngomelin emakku yang gak pernah absen nonton sinetron lagi.
jadi sepi.
mau denger lagu, kompie dan laptop bernasib naas.
mau ngerjain tugas, boro-boro.
mau nge-sms tem-tem(akhirnya aku ngerasa butuh sama hp ku), udah keduluan mati.
mau buat pr, besok-besok deh.
mau beres-beres ke sekolah aja, sekian banyak rintangan.
kran air gak mau kompromi.
lampu rumah yang terpaksa digantikan dengan lilin temaram di subuh hari. benar-benar dramatis-tis.
mau sarapan, gak ada nasi. eh, emakku udah antisipasi yg ini.
mau minum susu? mimpi kali! dispenser KO.
abis makan, mau cuci tangan,, timba air duluuuu...
tapi, setelah experience hari pertama kemarin, aku bisa selesai berkemas pagi tepat waktu. tinggal berangkat aja.
tiba-tiba...
"huk huk"
motor abangku batuk-batuk.
ada apa ini?!!!
belum cukupkah semua yang telah terjadi???
"huk-huk"
masih batuk-batuk. aku ngeluarin hp-ku. mau liat udah jam berapa. ups,, hp kan mati. dodolnya...
"huk-huk"
batuk lagi.
"jam tujuh lewat delapan ki....."
emakku dari rumah teriak.
Allahuakbar. bismillahirrhmanirrahim. alhamdulillahirabbil 'alamin..... aku sedang berusaha mengurangi peluang penyakit gila nomor tujuhku keluar. tiba-tiba saja membacakan segala bacaan dalam sholat.
yak! batuknya udah selesai. dengan senyum mengembang pasrah, aku berangkat sekolah. sebenarnya ini semua sia-sia belaka. aku tau itu. tapi, kali aja pak edy lupa nutup pagar. usaha dulu.
sampai di sekolah. pagar samping tepatnya..
"pagar depan, bang"
abangku dengan semangat bermilyar ton, kecepatan 1000 kali kecepatan cahaya, mulai membawaku ke pagar depan. gak perlu lagi, bang. biasa aja deh!
gak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu sendiri. ya, pagar sudah tutup hari ini.
hari kedua, semester enam. berturut-turut setelah hari pertama.
akhirnya, aku kirim surat sakit yang ditandatangani panglima datuk sri maharaj [ mon pere ] ke sekolah. saya sakit, bu guru....
aku malas menceritakan yang tidak indah-indah seperti ini.
cuma bikin aku tambah lemah.
padahal kan aku lagi membutuhkan semangat. semangat setinggi bintang. yang walaupun kecil, namun sangat tinggi. tak perlu dipoles dengan tampilan luar seindah mungkin, ia sudah benar-benar indah. tak perlu diperlihatkan kekuasaan dan keangkuhan yang besar, karena dalam setitiknya itu sesungguhnya ia besar.
tuh kan, aku mulai lagi, penyakit gila nomor sembilan nih.
Komentar