la tahzan

Sekarang aku lagi di mesjid agung an-nur. Pergi membawa hati. Sekaligus membawa laptop*ga penting*. Disini sejuk. Anginnya menenangkan. Paling tidak kerinduanku pada Ai bisa berkurang. Hoho..

Pergi membawa hati?
Kesannya seperti ada masalah besar saja. Padahal tidak. Sama sekali tidak. Nothing happened. Tapi sulit juga untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Memang sedang ada gejolak yang berkecamuk. Stuck!
Dulunya aku pikir musim libur dan pergi liburan baik untukku. Tapi tidak sepenuhnya baik. Kalau sudah nyaris tiga bulan libur and nothing to do, otomatis aku jadi bodoh. Bloon. Ga ada isinya nih otak. Emosi kurang terkendali. Karena otak cuma diisi dengan acara-acara bodoh di tipi. Dan hati pun semakin mudah berbolak-balik.

Tidak bergaul dengan dunia luar membuatku kaku. Kaku berkomunikasi. Dan tidak mood. Maksudku mood positif berkurang. Karena menurutku mood positif tidak bisa didapatkan dari diam saja di rumah. Hanya diam tanpa aktifitas di luar.

Rasanya sudah dua bulan aku berencana ke mal. Mau nonton. Dan sampai sekarang belum terealisasikan. Belum bisa kucoret dari list kegiatan yang ingin aku lakukan. Karena ga mood itu. Keluar rumah ga mood. Ga ada yang bisa diajak. Teman-teman udah pada sibuk berangkat dari Pekanbaru. Di rumah juga ga mood. Terlalu monoton. Udah berapa banyak judul pilem yang kuincar. Dan satupun belum bisa menjadi santapan.

Rasanya juga sudah dua bulan aku berencana ke gramedia. Beli buku. Tapi belum sempat sekalipun. Disamping ga punya uang, aku pun ga tau kenapa kok betah di rumah.

Sendiri begini sebenarnya semakin mempermudah airmata. Kemungkinan tambah sedih semain besar. Pertanyaannya, mengapa bersedih?
Haduh kiki,, la takhof wa la tahzan!

Jadi sedih itu tidak seberapa. Kalau dinilai dari angka satu sampai seratus, kadar sedih cuma mencapai angka sebelas. Yang lebih mendominasi adalah rindu. Rindu yang semakin menjadi-jadi ini karena sedih yang sedikit itu. Kalau tidak ada yang perlu disedihkan, maka rindu itu tidak begitu besar. Dan tidak meledakkan airmata seperti sekarang. Memang sedang ingin menangis saja.

Orang-orang melihatku. Dan aku tetap menunduk dalam ke laptop ini. Seperti adegan yang dirindui Jo dariku adalah ngelap muka bagian hidung pake sapu tangan, maka aku pun sedang melakukan itu sekarang. Dengan sapu tangan pink putihku. Tapi tidak sepenuhnya benar. Karena aku ngelap mata. Kan lagi nangis. Hahaha…

Jadi semakin rindu ai..
Rindu bahunya.
Rindu peluknya.
Rindu usapannya di punggung.

Kalau saja Pekanbaru-Jakarta itu dekat, maka aku sudah lari kesana. Menangis di bahu ai. Dan ai memeluk tanpa banyak tanya. Lalu aku berhenti menangis karena sudah lega. Hahaha…
People change, dan mungkin aku juga. Berubah menjadi tidak mood sekarang. Tidak menyenangkan lagi. Tidak banyak bicara karena memang tidak ada yang perlu ataupun bisa kuceritakan.
People change. Dan aku pun berubah. Menjadi Power Puff Girl. Heiyyaa…..


*masih tetap ada bagian tidak penting yang ingin aku selipkan disini. Aku memang telah melanggar ikrarku untuk menulis dengan baik. Biar saja. Page ini kan milikku. Dan aku berhak untuk setiap yang tidak penting disini*

Ada yang menyenangkan kemarin malam. Persis disaat aku lagi kacau dan akhirnya bisa tidur jam 12 malam. Great!
SMS dari dyan yang awalnya nanya-nanya tentang kuliah, tapi ujungnya jadi menghibur. Kami sama-sama bingung kenapa jadi melenceng dari tujuan awal dulu. Aku masuk teknik sipil. Dyan di komunikasi.
Aku lagi galau. Dan aku jawab begini.
“ga tau juga kenapa kok melenceng toge ke teknik kambing itu. Padahal dulunya ga kepikiran sedikitpun”
Dan dyan pun membalas,
“toge jarang melenceng. Teknik pun blum jadi kambing. Jalani aja jalan melenceng yang penuh kambing dengan ikhlas. Jangan sampai kita jadi toge atau kambing”

See? Orang gila memang tidak bisa dipertemukan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukankah Kita Bersaudara?

Ada yang Mau Ngucapin Tahniah*???

Jamuan Tamu