Tangis mereka mungkin tak cukup. Teriakan gerah melepas amarah tak kuasa di simpan. Darah berceceran bagaikan air kran di rumah kita. Hidup mereka hancur. Jauh berbeda dengan kita, yang masih bebas pergi sana-sini. Mengeluhkan perihal kelangkaan bahan bakar padahal saudara kita disana sedang berhadapan dengan peluru. Kita masih makan tiga kali sehari, mungkin sambil nonton tipi atau bersenda gurau dengan orang tercinta. Mereka sedang bersiap dengan ancaman bom yang mungkin meluluh lantakkan hidup mereka. Ah, saudaraku. Kau sedang apa disana? Apakah kau punya uang? Punya pakaian bersih? Tersediakah air? Apakah ada bahan makanan di rumahmu? Atau, apakah kau masih punya rumah? Headline di koran-koran membuatku miris. ” mengirim relawan Jihad ke jalur Gaza adalah usaha sia-sia. Boleh saya katakan, mustahil boleh masuk ke Jalur Gaza saat ini untuk maksud apapun, termasuk tujuan kemanusiaan.” Abdurrahman Mohammad Fachir – Dubes RI untuk Mesir – Aksi kemanusiaan dilakukan dimana-mana. Termasu...
I'M EIGHTEEN!!!!! yayaya.... sudah gede, kata mereka. sudah tambah tua pastinya. aku senang sedih gitu. senang banyak orang baik di dunia yang jam 00.00 udah pada sms. nelponin subuh2 buta buat nyanyi2 hepi bdei, bela2in buat rekam afgan nyanyi hepi bdei buatku ... huwaaaa......... ai, lap yu. segitu baiknya. bayangin sodara2. betapa banyak orang baik di dunia. aku semakin sadar akan sesuatu, kalo kita lagi ngerasa sendiri, mereka mungkin ga tau. jadi, kita ga pernah sendiri. berbagilah dengan mereka. pagi-pagi aku baca Riau Pos, dan aku Alhamdulillah wa syukurillah lulus di tek sipil . benar2 kado yang menyenangkan untuk sebuah angka. jadi, kalo aku ga lulus dokter ntar, aku bakal lanjut kul di tek sipil aja. alhamdulillah.. nah, bagian sedihnya, kalo jatah hidupku 50 tahun, 32 tahun lagi aku mati. kalo 19 tahun, setahun lagi aku mati. nah kalo 18 tahun satu hari, berarti besok aku mati. jadi, kiki mohon maap atas semua, SEMUA dosa dan salah2 yang sudah kiki buat ke semua orang...
Hari ini, kehidupan membawa saya untuk berkenalan dengan seorang perempuan muda yang sedikit lebih tua dari saya selang beberapa tahun dari usia hampir dewasa saya. Kami terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan perkenalan biasa. Tentang irisan-irisan yang membawa kami untuk menemukan sedikit kecocokan di menit-menit pertama perkenalan. Bekerja di bawah atap usaha yang sama. Dengan gender yang sama-sama resesif di antara kerumunan pekerja lainnya yang bergender pria, aku pikir kami akan punya banyak persamaan dalam cerita-cerita suka duka, tentang menjalani hari-hari penuh tanggung jawab kepada bangsa ini. Namun ternyata kutemukan perbedaan yang krusial dalam keluhan duka kami. Kuanggap lelahku adalah keluhan, namun ia menginginkan kelelahanku. Ia menginginkan apa yang aku miliki dan aku tidak. Tapi juga sebaliknya. Baginya, aku dengan periode pengabdian yang tidak lebih banyak darinya, telah berada pada posisi idaman bagi banyak orang yang sudah lebih dulu berlelah-lelah b...
Komentar