Ya Allah, Terimakasih Atas Segala Kasih SayangMU

Kualitas tidur biasanya selalu dikaitkan dengan kepulasan tidur bukan? Meskipun tidur hanya sebentar namun sangat lelap dan bangunnya sangat segar?

Aku adalah penganut jenis tidur seperti itu, dengan durasi panjang ataupun pendek. Dan hampir selalu tanpa mimpi. Dan kalaupun bermimpi aku selalu tidak berusaha untuk mengingat-ingat apa adegannya dan hanya berlalu ke kamar mandi untuk wudhu lalu Shalat Subuh. Aku memang tipe orang yang tidak suka mempedulikan dan menghubungkan mimpi dengan kehidupan nyata, mencari tau tafsir mimpi atau hal-hal mistis atau primbon itu atau apalah namanya. Cenderung tidak suka mempedulikan apa-apa. Apatis. Parah. Baru sadar. Dari dulu kemana aja kok baru sadarnya sekarang (cry) *bukan tentang mistis atau primbonnya, tapi apatis tentang banyak-banyak-banyak hal.

Tapi mimpi beberapa malam lalu selalu aku ingin ingat karena aku tidak ingin kehilangan value dari mimpi itu sekalipun telah berlalu beberapa masa atau banyak masa nanti. Mimpi sangat buruk yang seharusnya aku lupakan saja daripada dihantui hal tak nyata, gitu kan ya?

Aku bermimpi tentang kematianku. Tidak tentang proses kematianku, tapi tentang apa yang terjadi pada jasadku setelahnya. Aku memerankan peran sebagai penonton film yang pemeran utamanya adalah diriku sendiri dalam mimpi itu. Rancu ya? Intinya aku mimpi tentang aku, tapi aku cuma nonton aja, yang aku tonton itu aku juga yang memerankan. Ah sudahlah sudah jangan menyusahkan hidup.

Dalam mimpiku, aku adalah seorang penonton yang berdiri dekat sekali dengan adegan demi adegan yang kuperankan, namun aku hanya menjadi pemerhati, berdua. Ya, berdua. Dia selalu menjelaskan apa-apa yang aku lontarkan tapi aku tidak bisa mengingat dan mengidentifikasi siapa yang selalu ada di sampingku, sebagai penonton (juga) dan penerjemah itu.

Hanya sedikit yang paling kuingat. Aku sedang berada di sebuah gudang kayu dan di depanku banyak sekali mesin ketam kayu. Kalian tau kan? Mesin ketam kayu yang kalau sepotong kayu disorongkan ke dalamnya, kayunya keluar dengan sangat licin dan bertebaran sisa irisan-irisan ketaman kayu beterbangan lalu jatuh ke lantai.

Aku melihat posisi kayu digantikan oleh orang di atas meja pengetaman. Lalu tidak disorongkan ke pisaunya. Namun seorang tukang ketam mulai mengetam tubuh orang itu dengan free style (?). maksudku dari segala arah tanpa ada aturan harus dari pangkal ke ujung seperti kayu seharusnya. Beterbangan. Puing seluruh tubuh itu beterbangan seperti kapas. Benar-benar terbang seperti abu habis pembakaran, tidak ada setitikpun darah (kalau berfikir rasional, namun ini mimpi men, jangan hubungkan dengan rasionalitas).

Dengan ngeri aku bertanya dengan sosok di sebelahku. Dan aku tidak bisa mengingat jawabannya. Akhirnya aku hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa itu adalah sesuatu yang tidak baik bagi sepotong tubuh di atas meja ketam itu.

Kemudian aku melihat tubuh lain keluar dari kotak kayu dan ya itu adalah tubuhku. Aku menangis sejadinya melihat tubuhku akan diketam dengan alat ketam pisau berputar-putar di tangan tukang ketam dengan gaya free style itu. Menangis sejadinya menonton tubuhku yang mulai diketam. Menangis sejadinya sambil terus memohon. Sehingga akhirnya permohonanku dikabulkan dan proses pengetaman tubuhku dihentikan. Belum banyak. Maksudku benar-benar belum banyak jika dibandingkan dengan pengetaman seluruh badan. Masih kepala sedikit. Ya masih sedikit, tak usah sangat dibayangkan. Aku sangat bersyukur dengan gagalnya tubuhku diketam habis itu.

Tak henti-henti aku menangis sambil terus berucap “terimakasih atas segala kasih sayangMu, Ya Allah”

Lalu aku terbangun dalam adegan tangis-menangis itu dengann hati yang bergolak rasanya. Awal hari yang berat menurutku.

Akhirnya aku menyadari bahwa kalimat syukur atas kasih sayang Allah itu sangat dalam dan tidak sebanding dengan syukur atas berhasil memenangkan proyek trilyunan atau membeli mobil super mewah (walaupun keduanya belum pernah kudapatkan). Namun aku yakin kalau kasih sayang Allah itu menjadi sangat luas dan tak berbatas. Sangat-sangat-sangat-sangat besar daripada lulus UN. Yang sayangnya banyak yang memilih untuk lari dari kehidupan karena itu? Padahal hidup sangat amat berharga untuk perjuangan hidup part kedua dan sangat tidak sebanding untuk diakhiri dengan sia-sia.

Walaupun,  nikmat sekecil apapun, seeeeeekecil apapun, ya, tentu saja tetap harus disyukuri.
Maka, Ya Allah terimakasih atas segala kasih sayangMu.
Masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang Engkau sayangi dan Engkau Cintai, Aamiin.

Pekanbaru, Waskita Karya Office., Mei 2015
*Sori panjang banget.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukankah Kita Bersaudara?

Ada yang Mau Ngucapin Tahniah*???

Jamuan Tamu