Postingan

Anak-Anak Ya Memang Begini

Liburan semester anak SEKOLAH lalu, rumah saia bapak saia penuh dengan sodara sodaru, dan yang jelas ributtt dengan sekompi ponakan ponakin dari segala penjuru galaksi. Ini jadi ajang bangga2an rapor anak bagi orang tua. Dan orang tua saia, sayang sekali, alhamdulillah, saia sudah TIDAK sekolah lagi. Saia kan SUDAH BESAR , jadi saia kuliah donks! :p jadi orang tua saia tidak perlu repot ikut dalam pembicaraan ranking anak2. Wong saia anak kecil yang paling besar. Jadi saia donk juara umumnya. Kalo ada anak kecil yg ga terima, silahkan.. tinggal pilih.. mau dapat tiket spektakuler menghancurkan inventaris kamar dan kuliah saia atau tidak... percayalah.. Merusak kamar saia benar2 menyenangkan bagi anak2. Apalagi kalau saia sampai meraung mau marah campur nangis. Tambah semangat aja mereka =.=' ICA Saia: ica juara berapa? Ica: juara dua *malu-malu* S: mantap! besok juara 1 yaa.. VITO Saia: pito juara berapa? Vito: juara empat! *senyum jahil bangga* S: hebatt! AKBAR S: kalau adek? A:...

Mana Antonimnya?

Saia tidak setuju dengan kosakata “gagal”. Ketika ”berhasil” membutuhkan antonim, maka saia akan mengisi kolom antonimnya dengan ” belum berhasil ”. Jangan tanyakan saia sekolah dimana dan guru Bahasa Indonesia saia siapa sampai saia begini parahnya mengikuti aliran Bahasa Indonesia versi sesat. Saia tidak setuju dengan kosakata ”gagal” karena belum berhasil bukanlah keinginan manusia manapun. Dan saia sepenuhnya tidak setuju dengan yang namanya ” kebetulan ”. Kebetulan berhasil, atau kebetulan belum berhasil. Karena saia percaya, tidak ada yang kebetulan di jagad raya ini. Semua sudah diatur oleh Zat yang Maha Teliti. Belum berhasil bukanlah kebetulan. Saia tidak setuju dengan kosakata ”gagal” karena belum berhasil bisa disebabkan oleh kurang jelinya memprioritaskan prioritas. Lalai dan merasa ”masih ada hari esok”. Ahhh, saia banget nih.. Saia tidak setuju dengan kosakata ”gagal” karena belum berhasil juga bisa terjadi karena belum optimalnya menggunakan kesempatan. Mungkin telinga ...

Jangan Bosan Dengan Lampu Merah :D

Cuaca begini namanya bersahabat. Matahari bersinar sekedar, dan hujan pun tidak. Angin sepoi-sepoi jadi AC pun tak difungsikan. Sore yang tenang di jalanan yang sepi dengan pengemudi yang tak mahir. Kakak saia. Kalau di jalanan ramai cuaca begini pun hati terasa gerah memprediksi kejadian-kejadian bodoh yang akan membuat malu. Saia duduk di kursi sebelahnya sambil mengunyah. Kami baru saja singgah ke toko roti. Bukan tujuan utama, tapi mumpung lewat, ya nasib kantong kakak saia terkeruk untuk menyalurkan nasib kelaparan dan pemenuhan selera saia. Haha.. ada roti keju enam potong. Sudah saia habiskan satu. Dan ini roti yang kedua. Setting lampu merah kali ini berada di jalan samping Mesjid Agung Annur, di Pekanbaru saia. Artinya, saia tidak tahu nama jalannya. Dengan asumsi bahwa jalan hangtuah adalah sisi samping satunya lagi. Karena saia tak tahu mesjid ini depannya yang mana. Hahahaha.. parah. Simpang empat, tapi jalan yang aktif cuma tiga, dan jalan yang kami berhenti di lampu merah...

Cerita Kesekian Tentang Lampu Merah

Ini murni cerita tentang pengalaman saia saja. Saia luangkan waktu di sela-sela mengerjakan laporan Hidrolika. Karena laporan Mekanika Tanah saia sudah resmi Alhamdulillah diberikan Allah kemudahan untuk menyelesaikannya sekalipun dengan sekian juta sakit hati dan caci maki dalam hati. Sehingga apa? Insya Allah laporan itu membuat saia bias ikut UAS semester ini dan dengan begitu saia punya kesempatan lebih besar untuk bisa ambil kelas MekTan II dan semoga bisa lanjut ke Pondasi dan subject-subject lain yang terkait nanti, kalau saia masih hidup dan bertahan di teknik sipil ini. Oke, prolog melenceng. Meleset. Tadi rencananya tidak ingin menyangkut sedikitpun tentang perkuliahan saia. Tapi apalah daya. Terimalah takdir anda telah sampai kesini, dan mungkin mood anda berubah jadi rusak setelah singgah plus baca. Kasian ya? Hahaha… maapin saia. Dan segala kalimat-kalimat tak senonoh saia. Saia memaksakan diri untuk menutup tahun ini dengan sedikit cerita karena arsip tahun ini sedikit se...

bukan cumi asam manis

Sekarang saia sudah 19 tahun. Maksudnya, beberapa bulan lalu saia genap berusia 19 tahun. Wew, padahal bayang-bayang masa-masa TPA, SD, SMP, SMA dekat saja rasanya. Seperti kemarin. Dan masa-masa sulit di akhir-akhir SMA menuju kuliah juga tinggal kenangan. Padahal saat itu rasanya berat sekali menghadapi kehidupan. Ya, manusia jelas diberi ujian sesuai dengan kemampuannya. Dan ternyata semua terlewati sudah. Walaupun tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan, tapi yang jelas hidup tetap berjalan. Dan masa-masa itu sudah lewat. Tamat. Masalah dan masa-masa suram dulu itu ya tinggallah menjadi masa lalu. Sekarang saia sudah lupa seperti apa rasa kalut, cemas, depresi, stress yang dulu sempat saia rasakan. Karena jelas kadar rasa itu berbeda sekarang, naik tingkat. Dan karena yang dulu-dulu itu sudah lewat, ya rasanya itu belum ada apa-apanya. Dan yang dihadapi sekarang inilah yang ada apa-apanya. Dan ini adalah siklus. Tak bisa berhenti. Di masa mendatang saia akan merasakan bahwa y...

Terselamatkan

Gambar
bismillah.. dapat dari sini saia selamaaaat. hahahaha cuma mau menumbuhkan kembali keinginan untuk menulis. sekalipun entah menulis apa. pokoknya menulis sajalah!

Mereka yang Hidup dan Lahir di Jalan

Gambar
Renyai di sore hari, hawa hujan masih terasa. Aku berhenti saat lampu merah menyala. Dan kulihat satu-satu orang yang memanfaatkan momen ini untuk menyeberang. Berbagai macam jenis orang dengan setelan berbeda, ekspresi berbeda, kuikuti dengan dua mataku. Pengamen yang bernyanyi sumbang dengan kecrekannya berdiri di samping kaca mobil tak jauh dariku. Anak-anak, tapi menyanyikan lagu percintaan orang dewasa. Tak pantas saja kedengarannya. Satu orang lagi melintas. Biasa saja, tidak menor tapi agak mencolok. Memikul dua kotak yang berada di kedua ujung kayu yang dihubungkan dengan kayu melengkung di pundaknya. Tukang sol sepatu. Aku ikuti sosoknya sampai tak terlihat. Banyak yang terpikir olehku. Sejak jam berapa ia menjajakan jasanya setiap hari? Berapa penghasilannya? Sebandingkah dengan langkahnya menghitung ruas jalan sampai entah kapan akan dipanggil orang? Berapa cepat sepatunya sendiri habis bergesekan dengan aspal dan bebatuan kering? Di zaman seperti ini, masih ada tukang sol s...