Review - Ujian Praktek
Aku terlalu cepat bahagia. Terlalu mudah bernapas lega. Juga terlalu baik menilai sesuatu. Setelah UN dan UAS yang beruntun itu angkat kaki dari hidupku, aku menghembuskan napasku sekeras-kerasnya. Merasa libur telah di depan mata. Merasa bahagia lepas dari belenggu sistem hantu antah berantah yang diterapkan pemerintah itu. Katanya demi memajukan kualitas. Atau apapun itu.
Oh, ternyata di dunia ini ada benda bernama UP-ujian praktek-. Tidakkah UN yang langsung disambut UAS itu cukup? Belumkah sekolahku ini bisa lega ketika aku cepat-cepat libur dan tidak menjenguknya sehari saja?
Tanpa beban yang berarti, guru-guru langsung menempelkan jadwal UP di seluruh papan pengumuman sekolah. Beruntun. Lagi-lagi tanpa selang waktu dari UN dan UAS. Seperti sinetron kejar tayang yang tidak berbobot dan rendah kualitas saja.
UP itu dimulai.
Aku melihat sisi lain dari Biologi. Dari 24 percobaan dan pengamatan yang disusun di meja lab, aku tertarik mendadak dengan Biologi yang selama ini kuhindari demi keselamatan otakku. Sayang, waktunya tidak tepat. Terlambat sudah bagiku untuk menyukai Biologi. Sedikitpun aku tidak berharap untuk kembali ke sekolah ini, mengulang pelajaran Biologi yang ternyata, gambarnya warna-warni dan bagus-bagus. Aku disuruh menebak, gambar apa ini? Organ apa ini? Kelenjar apa? Tulang apa? Alat apa? Fungsinya? Daun tanaman apa ini? Apa nama ilmiah semua benda itu?
Dilanjutkan dengan bahasa Inggris. Speech.
Aku menyesal telah menjahili Ramon. Persis menjelang namanya dipanggil, dia sibuk menenangkan diri. Berkomat-kamit. Menghela napas. Melirik-lirik ke naskahnya. Dan aku sibuk menanyainya tentang sin 2 alpha, sin ( a + b ), cos a + cos b, dan segala macam pertanyaan tentang Matemaka. Dia kesal bukan main. Tapi, dalam kesalnya itu, dijawabnya juga pertanyaanku yang asal-asalan. Bagaimanapun Matematika menarik baginya. Bagi dia yang telah disuntik vaksin matematikaes oleh sekolahku. Sejenis vaksin untuk membuatnya semakin mencintai matematika dalam hidupnya. Mengedepankan segala hal tentang matematika daripada fisika, ataupun main bola.
Ramon sukses menyelesaikan speechnya. Sekarang dia kembali ke kursinya. Dengan wajah yang dibuat seceria mungkin, dia menanyaiku tentang matematika yang tadi aku tanyakan. Aku sudah keringat dingin. Bukan karena matematika yang menarik untuk dibahas di waktu yang tidak tepat seperti ini. Tapi lebih karena sebentar lagi giliranku. Dan si ramon ini terus-terusan menggangguku. Membalaskan dendamnya.
” i don’t care. I don’t care.... mikirlah Mon. sejak kapan aku tertarik sama matematika” lalu aku pindah kursi. Memilih aman. Sebentar lagi saja aku disana, dia akan melancarkan jurus-jurusnya. Mungkin dengan mengajakku membicarakan shikamaru, atau novel baru.
Aku berhasil. Memperlihatkan kemampuan maksimalku untuk tugas akhir. Dengan terus-terusan melihat contekan naskahku. It’s my best, ma’am...
Oh, ternyata di dunia ini ada benda bernama UP-ujian praktek-. Tidakkah UN yang langsung disambut UAS itu cukup? Belumkah sekolahku ini bisa lega ketika aku cepat-cepat libur dan tidak menjenguknya sehari saja?
Tanpa beban yang berarti, guru-guru langsung menempelkan jadwal UP di seluruh papan pengumuman sekolah. Beruntun. Lagi-lagi tanpa selang waktu dari UN dan UAS. Seperti sinetron kejar tayang yang tidak berbobot dan rendah kualitas saja.
UP itu dimulai.
Aku melihat sisi lain dari Biologi. Dari 24 percobaan dan pengamatan yang disusun di meja lab, aku tertarik mendadak dengan Biologi yang selama ini kuhindari demi keselamatan otakku. Sayang, waktunya tidak tepat. Terlambat sudah bagiku untuk menyukai Biologi. Sedikitpun aku tidak berharap untuk kembali ke sekolah ini, mengulang pelajaran Biologi yang ternyata, gambarnya warna-warni dan bagus-bagus. Aku disuruh menebak, gambar apa ini? Organ apa ini? Kelenjar apa? Tulang apa? Alat apa? Fungsinya? Daun tanaman apa ini? Apa nama ilmiah semua benda itu?
Dilanjutkan dengan bahasa Inggris. Speech.
Aku menyesal telah menjahili Ramon. Persis menjelang namanya dipanggil, dia sibuk menenangkan diri. Berkomat-kamit. Menghela napas. Melirik-lirik ke naskahnya. Dan aku sibuk menanyainya tentang sin 2 alpha, sin ( a + b ), cos a + cos b, dan segala macam pertanyaan tentang Matemaka. Dia kesal bukan main. Tapi, dalam kesalnya itu, dijawabnya juga pertanyaanku yang asal-asalan. Bagaimanapun Matematika menarik baginya. Bagi dia yang telah disuntik vaksin matematikaes oleh sekolahku. Sejenis vaksin untuk membuatnya semakin mencintai matematika dalam hidupnya. Mengedepankan segala hal tentang matematika daripada fisika, ataupun main bola.
Ramon sukses menyelesaikan speechnya. Sekarang dia kembali ke kursinya. Dengan wajah yang dibuat seceria mungkin, dia menanyaiku tentang matematika yang tadi aku tanyakan. Aku sudah keringat dingin. Bukan karena matematika yang menarik untuk dibahas di waktu yang tidak tepat seperti ini. Tapi lebih karena sebentar lagi giliranku. Dan si ramon ini terus-terusan menggangguku. Membalaskan dendamnya.
” i don’t care. I don’t care.... mikirlah Mon. sejak kapan aku tertarik sama matematika” lalu aku pindah kursi. Memilih aman. Sebentar lagi saja aku disana, dia akan melancarkan jurus-jurusnya. Mungkin dengan mengajakku membicarakan shikamaru, atau novel baru.
Aku berhasil. Memperlihatkan kemampuan maksimalku untuk tugas akhir. Dengan terus-terusan melihat contekan naskahku. It’s my best, ma’am...
Komentar